Minyak Tanah Langka di Belu: Warga Antre Berhari-hari, Pangkalan Mulai Mainkan Harga HET

BERITA, DAERAH39 Dilihat

Minyak Tanah Langka di Belu: Warga Antre Berhari-hari, Pangkalan Mulai Mainkan Harga HETATAMBUA, GRANDISMA.COM – Krisis kelangkaan minyak tanah kian mencekik kehidupan masyarakat di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sudah dua pekan terakhir, komoditas yang menjadi urat nadi dapur warga ini seolah “lenyap” dari pasaran, memicu kepanikan dan antrean panjang yang tak berkesudahan di berbagai sudut Kota Atambua.

​Kondisi di lapangan menunjukkan realitas yang memilukan, di mana warga harus mengorbankan waktu dan tenaga demi seliter bahan bakar minyak bersubsidi tersebut.

Jajaran jeriken kosong yang mengular di setiap pangkalan menjadi pemandangan harian yang lazim, mencerminkan frustrasi masyarakat yang kian memuncak akibat ketidakpastian pasokan.

​Salah seorang warga Atambua, Serafina Nahak (54), menuturkan betapa beratnya perjuangan untuk sekadar menyalakan kompor di rumahnya.

Menurutnya, para ibu rumah tangga kini harus rela mengantre hingga berjam-jam di bawah terik matahari, bahkan tidak jarang mereka terpaksa pulang dengan tangan hampa.

​”Kami setengah mati sekali cari minyak tanah sekarang. Antre sudah berjam-jam, tetapi seringkali harus pulang bawa jeriken kosong karena minyak sudah habis,” keluh Serafina dengan nada kecewa saat ditemui jurnalis di lapangan, Minggu (17/5).

​Kelangkaan ini rupanya dimanfaatkan oleh sejumlah oknum pangkalan nakal untuk meraup keuntungan sepihak di tengah penderitaan warga.

Berdasarkan investigasi di lapangan, beberapa pangkalan mulai berani “bermain” harga dengan menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) secara sembunyi-sembunyi karena tahu warga tidak punya pilihan lain.

​Minyak tanah yang seharusnya dijual sesuai regulasi resmi, yakni Rp 4.000 per liter berdasarkan HET, kini mendadak dikatrol sepihak oleh pangkalan menjadi Rp 5.000 per liter.

Praktik curang ini semakin memperparah beban ekonomi masyarakat kecil yang sudah terpukul oleh sulitnya mencari barang.

​Melihat situasi yang kian tidak kondusif ini,  Serafina mendesak Pemerintah Kabupaten Belu untuk tidak tinggal diam dan segera mengambil tindakan nyata.

Masyarakat meminta ketegasan aparat dan dinas terkait untuk turun langsung ke lapangan mengawasi distribusi yang carut-marut ini.

​”Kami meminta kepada pemerintah daerah agar ikut menelusuri kelangkaan minyak yang terjadi di Kabupaten Belu ini. Jangan biarkan kami masyarakat kecil terus menderita, dan tolong tindak pangkalan yang mainkan harga,” tegas Serafina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *