Mengapa Mossad Sangat Berbahaya? Filosofi Bertahan Hidup yang Melampaui Batas

BERITA4 Dilihat

GRANDISMA.COM – Mossad dianggap sebagai salah satu badan intelijen paling berbahaya di dunia, bukan hanya karena kemampuan operasionalnya yang canggih tetapi juga karena filosofi kerja yang berdasarkan pada kebutuhan bertahan hidup yang melampaui batas moral, hukum, dan wilayah negara.

Prinsip ini menjadi dasar bagi setiap tindakan yang mereka lakukan.

Latar belakang sejarah bangsa Israel menjadi fondasi utama filosofi tersebut.

Setelah mengalami pembantaian 6 juta orang Yahudi selama Holocaust dan melihat dunia menjadi saksi bisu, para pendiri Israel memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada belas kasihan atau perlindungan dari negara lain.

Mossad dibentuk pada tahun 1949 dengan tujuan untuk mengumpulkan intelijen, melakukan tugas khusus, dan memastikan keberlangsungan negara Israel.

Berbeda dengan badan intelijen lainnya yang bekerja berdasarkan prinsip kekuatan dan pengaruh global, Mossad lahir dari rasa takut akan kehancuran yang pernah dialami.

Filosofi utama Mossad adalah “jika kita tidak membunuh duluan, maka kita yang akan dibunuh”.

Prinsip ini membuat mereka bekerja tanpa mempertimbangkan batasan hukum internasional atau standar hak asasi manusia yang berlaku di dunia internasional.

Kekuasaan Mossad berada langsung di bawah Perdana Menteri Israel, sehingga tidak ada lembaga lain yang dapat mengawasi atau mengontrol kerjaannya secara menyeluruh.

Banyak keputusan operasional dibuat tanpa diketahui oleh kabinet atau parlemen Israel sendiri.

Agen Mossad direkrut dari kalangan terbaik dengan proses yang sangat ketat dan rahasia.

Setelah diterima, identitas mereka dihapuskan dari semua catatan resmi, nama asli diganti, dan masa lalu mereka dikubur hingga mereka menjadi sosok yang baru sepenuhnya.

Pelatihan yang diberikan kepada para agen melampaui standar pelatihan militer atau intelijen biasa.

Mereka diajarkan cara membaca ekspresi wajah dalam waktu singkat, memasuki gedung atau rumah tanpa meninggalkan jejak, dan melakukan pembunuhan dengan cepat dan tanpa suara.

Kemampuan berbahasa menjadi salah satu keahlian utama yang harus dikuasai.

Para agen diajarkan puluhan bahasa asing sehingga mampu menyamar sebagai warga lokal di negara mana pun dan berbaur dengan lingkungan sekitar tanpa dicurigai.

Mossad tidak mengenal batas wilayah dalam menjalankan misi.

Jika target berada di negara Eropa, Asia, atau bahkan di negara sekutu seperti Amerika Serikat atau Inggris, mereka akan tetap melakukan operasi dengan cara yang paling efektif.

Metode kerja Mossad tidak hanya fokus pada pengumpulan data atau informasi.

Mereka juga bertujuan untuk membuat musuh merasa tidak aman dengan menanamkan rasa takut melalui pembunuhan diam-diam, sabotase, atau tindakan psikologis yang mengganggu.

Penggunaan cara-cara yang dianggap kejam menjadi bagian dari operasi mereka.

Racun disuntikkan melalui gagang pintu kamar hotel, pasta gigi diganti dengan bahan kimia berbahaya, dan bom ditempatkan di tempat yang tidak terduga untuk menghilangkan target.

Tindakan psikologis juga menjadi bagian penting dari strategi Mossad.

Mereka menyebarkan desas-desus tentang pengawasan terhadap target, mengacak-acak rumah tanpa mengambil barang apapun, dan meninggalkan simbol-simbol aneh hingga korban menjadi paranoid dan tidak stabil secara emosional.

Jaringan Sayanim menjadi salah satu faktor yang membuat Mossad sangat berbahaya.

Sayanim adalah sukarelawan Yahudi yang tinggal di berbagai negara dan bersedia membantu operasi Mossad dengan memberikan informasi, akses, atau fasilitas tanpa menerima bayaran apapun.

Melalui jaringan Sayanim, Mossad dapat memperoleh informasi tentang aktivitas target, pergerakan orang penting, atau kondisi lingkungan di negara tujuan tanpa harus mengakses database resmi pemerintah atau lembaga terkait.

Mossad juga ahli dalam melakukan propaganda, sabotase, dan manipulasi politik.

Mereka seringkali menyebarkan informasi salah atau rumor untuk merusak reputasi musuh atau membuat mereka terlihat buruk di mata dunia internasional.

Penyusupan ke dalam institusi musuh menjadi salah satu keahlian utama.

Mossad merekrut orang dalam dari kalangan ilmuan, pejabat militer, atau diplomat menggunakan berbagai cara seperti pemberian uang, ancaman terhadap keluarga, atau jebakan seksual (honey trap).

Penggunaan paspor palsu dari negara lain menjadi praktik umum dalam operasi luar negeri.

Hal ini tidak hanya membuat mereka sulit dilacak tetapi juga dapat menyebabkan masalah diplomatik bagi negara yang identitasnya digunakan tanpa sepengetahuan.

Mossad juga dikenal dengan operasi palsu (false flag) di mana mereka menyamar sebagai pihak lain untuk melakukan tindakan yang kemudian disalahkan pada musuh Israel.

Tujuan dari operasi semacam ini adalah untuk menciptakan konflik atau merusak citra musuh.

Pengaruh Mossad juga dipercaya mencapai sektor media dan teknologi.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa mereka mampu memengaruhi narasi berita terkait Timur Tengah dan menggunakan perangkat lunak pengawasan seperti Spyware Pegasus untuk mengakses data pihak lain.

Filosofi bertahan hidup yang melampaui batas telah membuat Mossad menjadi kekuatan yang ditakuti di seluruh dunia.

Meskipun beberapa operasi mereka pernah gagal dan menimbulkan kontroversi, prinsip kerja yang berfokus pada kelangsungan Israel tetap menjadi landasan setiap tindakan yang mereka lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *