Literasi NTT Tertinggi Nasional, Tapi 25 Persen Siswa SMA Masih Gagap Literasi Dasar

Literasi NTT Tertinggi Nasional, Tapi 25 Persen Siswa SMA Masih Gagap Literasi DasarKUPANG, GRANDISMA.COM – Sebuah anomali data literasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terungkap dalam pertemuan antara Pemerintah Provinsi NTT dan Komisi X DPR RI di Kupang, Rabu (22/4). Meski mencatat minat baca tertinggi, kualitas literasi siswa justru berada di zona merah.

​Berdasarkan data Perpustakaan Nasional tahun 2025, NTT meraih skor Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) sebesar 62,05. Angka ini menempatkan NTT di posisi teratas secara nasional dalam hal antusiasme membaca.

​Namun, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, H. Lalu Hardian Irfani, memaparkan fakta yang berbanding terbalik. Lebih dari 25 persen siswa SMA di NTT ternyata masuk kategori literasi rendah.

​”Hanya sekitar 24,7 persen sekolah di NTT yang tergolong baik dalam pengelolaan literasi,” ujar Lalu Hardian dalam rapat di Ruang Rapat Gubernur NTT.

​Kesenjangan ini menunjukkan bahwa tingginya minat baca belum berkorelasi dengan kemampuan pemahaman teks secara mendalam. Banyak siswa gemar membaca, namun gagal menyerap substansi informasi dengan benar.

​Lalu Hardian juga menyoroti angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di NTT yang baru mencapai 8,22 tahun. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata nasional yang berada di angka 9,07 tahun.

​Hal ini berarti secara rata-rata, anak-anak di NTT kehilangan hampir satu tahun masa belajar dibanding daerah lain. Kondisi ini dianggap sebagai sinyal waspada bagi pembangunan SDM di wilayah tersebut.

​Gubernur NTT Melki Laka Lena merespons data tersebut dengan menekankan pentingnya revitalisasi perpustakaan. Ia menilai ketiadaan bahan bacaan yang berkualitas menjadi penyebab rendahnya daya kritis siswa.

​Kurangnya fasilitas pendukung di daerah terpencil seperti Sumba dan Sabu Raijua turut memperlebar jurang literasi. Wilayah kepulauan membutuhkan perlakuan khusus dalam distribusi buku dan tenaga pendidik.

​Komisi X DPR RI menyatakan akan mengevaluasi kurikulum literasi sekolah melalui skema Merdeka Belajar. Tujuannya adalah memperkuat literasi dasar di jenjang pendidikan menengah.

​Selain literasi, pertemuan tersebut membahas kesiapan NTT dalam mengimplementasikan putusan MK terkait sekolah bebas biaya. Hal ini diharapkan mampu mendongkrak angka RLS dalam beberapa tahun ke depan.

​Sinergi antara data pusat dan fakta lapangan diharapkan menjadi kunci penyelesaian paradoks literasi di NTT ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *