Krisis BBM Bersubsidi Hantam Perbatasan: Pertalite Langka di Atambua, Harga Eceran Tembus Rp 15 Ribu

BERITA, DAERAH27 Dilihat

Krisis BBM Bersubsidi Hantam Perbatasan: Pertalite Langka di Atambua, Harga Eceran Tembus Rp 15 RibuATAMBUA, GRANDISMA.COM – Krisis energi bersubsidi kembali melanda wilayah beranda terdepan Indonesia di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dilaporkan melonjak drastis dalam beberapa hari terakhir, hingga memicu kepanikan dan keluhan massal dari para pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Senin (15/6), antrean panjang kendaraan mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar, memperlihatkan lumpuhnya stabilitas pasokan energi di wilayah perbatasan RI-Timor Leste tersebut.

​Kondisi paling parah terpantau di SPBU Wekatimun, Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat.

Ratusan pengendara motor dan mobil terpaksa mengantre berjam-jam sejak pagi buta, bahkan hingga sore hari, tanpa kepastian mendapatkan pasokan Pertalite.

Akibat pasokan resmi di SPBU yang sering kosong, para spekulan dan pedagang eceran di sepanjang jalan protokol Atambua mulai memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga jual secara sepihak.

Harga Pertalite eceran di pasaran kini meroket tajam hingga menyentuh angka Rp 15.000 per liter, jauh di atas harga ketetapan subsidi pemerintah.

​”Sudah beberapa hari terakhir ini sangat langka BBM jenis Pertalite di Kabupaten Belu. Kita cari di SPBU kosong, sementara di tingkat eceran harganya melonjak drastis sampai Rp 15.000 per liter. Ini sangat mencekik kami rakyat kecil,” ujar Eman (36) salah satu pengguna kendaraan roda dua saat diwawancarai wartawan Grandisma di area SPBU Wekatimun.

Kelangkaan ini dinilai mengganggu mobilitas harian warga yang mayoritas bergantung pada BBM subsidi untuk bekerja dan menjalankan usaha mikro mereka.

​Kelangkaan BBM di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Belu kerap disebabkan oleh keterlambatan distribusi dari depo utama, serta adanya indikasi kebocoran pasokan ke pasar gelap atau penyelundupan lintas batas.

Ketika kuota subsidi di SPBU resmi habis dalam waktu singkat, masyarakat tidak memiliki pilihan selain membeli ke pengecer dengan harga yang melambung tinggi.

Fenomena ini memperlihatkan rapuhnya rantai pasok energi nasional di wilayah penunjang yang jauh dari pusat kendali logistik.

​Dampak dari melonjaknya harga BBM eceran ini diprediksi akan memicu efek domino terhadap kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan tarif transportasi lokal di Atambua.

Masyarakat mengeluhkan lambatnya respons dari pihak berwenang dalam mengawasi jalannya distribusi Pertalite dari hulu hingga ke hilir.

Distribusi yang tidak stabil ini membuat warga merasa dianaktirikan, mengingat status Kabupaten Belu sebagai wilayah strategis nasional yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Warga juga berharap ada tindakan tegas terhadap oknum yang menimbun atau menyalahgunakan alokasi BBM bersubsidi.

Jika pasokan tidak segera dinormalisasi dalam minggu ini, aktivitas perekonomian di kota perbatasan Atambua dikhawatirkan akan mengalami stagnasi total.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *