BELU, GRANDISMA.COM – Selain berfokus pada penguatan sektor ketahanan pangan dan mekanisasi pertanian, Pemerintah Kabupaten Belu juga memberikan atensi serius terhadap pemberdayaan ekonomi perempuan.
Saat melakukan kunjungan kerja di Desa Lewalutolus, Kecamatan Tasifeto Barat, Bupati Belu Willybrodus Lay, SH, secara khusus menyoroti potensi besar industri kreatif rumahan berupa kerajinan kain tenun ikat tradisional yang diproduksi oleh para ibu rumah tangga di wilayah perbatasan tersebut.
​Bupati Willybrodus Lay mengaku sangat terkesan dengan keindahan ragam motif kain tenun lokal khas Lewalutolus yang dinilai memiliki nilai filosofis tinggi.
Guna mendongkrak daya saing produk tersebut di pasar modern, ia menyarankan agar para perajin tenun mulai beralih dan mengikuti pelatihan teknis pewarnaan berbasis bahan alam.
Penggunaan pewarna alami dipandang strategis karena saat ini memiliki segmen pasar eksklusif dan bernilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan pewarna kimia sintetis.
​”Jika ibu-ibu penenun bisa menguasai pewarnaan alam, nilai jual kain akan meningkat drastis. Kita bisa menjualnya dengan harga bagus di festival tahunan. Ini akan menjadi sumber penghasilan tambahan yang signifikan bagi keluarga,” ujar Bupati Belu.
Pihak pemerintah daerah berkomitmen untuk memfasilitasi ruang promosi bagi kain tenun berkualitas ini, termasuk melibatkan produk kerajinan perempuan Belu dalam berbagai ajang pameran dan festival tahunan guna memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat nasional maupun internasional.
​Melalui pendekatan yang integratif ini, Pemkab Belu berharap struktur ekonomi masyarakat desa tidak hanya bertumpu pada satu sektor agronomi saja.
Kombinasi kuat antara mekanisasi pertanian yang digerakkan oleh kaum pria serta pengembangan ekonomi kreatif tenun ikat oleh kaum perempuan diharapkan mampu menciptakan ekosistem kemandirian finansial yang kokoh di Desa Lewalutolus dalam jangka panjang.
