BELU, GRANDISMA.COM – Kunjungan kerja Ketua Umum TP PKK Pusat, Ny. Tri Tito Karnavian, di Kampung Adat Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, memberikan ruang apresiasi khusus bagi kaum perempuan di wilayah perbatasan RI-Timor Leste.
Dalam momentum Ritual Ukun Naran Bunaq tersebut, Ketum TP PKK secara jeli menyoroti ketekunan para ibu dan remaja putri yang terampil mempertahankan tradisi Tais Selu (menenun kain) dan Futus Ginik (pencelupan benang menggunakan pewarna alami) sebagai simbol kemandirian ekonomi keluarga.
​Ny. Tri Tito Karnavian menegaskan bahwa peran perempuan dalam komunitas adat Bunaq di Lamaknen sangat sentral, tidak hanya sebagai penjaga moral keluarga tetapi juga benteng pelestari kebudayaan bangsa.
Aktivitas menenun kain Tais dengan motif-motif kuno bermakna filosofis yang diwariskan turun-temurun, menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu menjadi pilar ketahanan ekonomi domestik.
Produk kerajinan ini dinilai memiliki nilai jual tinggi jika dikemas dengan narasi budaya yang kuat untuk pasar nasional maupun internasional.
​”Perempuan di perbatasan Lamaknen menunjukkan karakter yang luar biasa melalui aktivitas tenun Tais Selu dan pengolahan pangan lokal secara mandiri. Ini adalah bentuk nyata dari implementasi program PKK di tingkat akar rumput, di mana pelestarian budaya berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi kreatif. Upaya pewarisan keahlian menenun kepada generasi muda di Kampung Duarato ini patut menjadi contoh bagi daerah lain,” ujar Ny. Tri Tito Karnavian
​Selama memantau aktivitas di sudut perkampungan, rombongan TP PKK Pusat juga disuguhkan dengan tradisi Siri Pinang atau En boal Gege molo lok sebagai tanda penghormatan tertinggi kepada tamu perempuan yang dihormati.
Budaya menyirih ini mencerminkan keterbukaan dan kehangatan persaudaraan masyarakat perbatasan dalam menerima kunjungan dari ibu kota negara.
Interaksi sosial yang erat ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai gotong royong masih mengakar kuat di tengah arus modernisasi.
​Hadirnya jajaran tokoh penting seperti para kepala desa, Ketua TP PKK Kabupaten Belu, serta pemerhati budaya dalam mendampingi kunjungan ini diharapkan melahirkan program pembinaan yang lebih terstruktur bagi para pengrajin tenun di Lamaknen.
Intervensi pemerintah daerah dalam hal permodalan dan perluasan akses pasar dinilai mendesak agar hasil karya perempuan Bunaq tidak sekadar menjadi konsumsi adat internal, melainkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat di beranda terdepan NKRI.
​Kunjungan ditutup dengan komitmen bersama antara TP PKK Pusat dan Pemerintah Kabupaten Belu untuk terus mengawal pelestarian Kampung Adat Duarato.
Keberadaan infrastruktur adat dan tradisi tenun pewarna alami ini akan dijadikan modal utama dalam mendorong Duarato sebagai desa wisata berbasis budaya.
Sinergi lintas sektor menjadi kunci utama agar perempuan perbatasan tetap berdaya dan menjadi pilar utama dalam menjaga kedaulatan budaya bangsa di tapal batas.






