Jeritan Penjual di Atambua: Pasokan Minyak Tanah Dipotong, Harga Eceran Tembus Rp 8.000 per Liter

BERITA, DAERAH75 Dilihat

Jeritan Penjual di Atambua: Pasokan Minyak Tanah Dipotong, Harga Eceran Tembus Rp 8.000 per LiterATAMBUA, GRANDISMA.COM – Sengkarut kelangkaan minyak tanah di wilayah perbatasan Kabupaten Belu kini tidak hanya memukul konsumen, tetapi juga membuat para agen dan pemilik pangkalan resmi gigit jari.

Berkurangnya kuota pengiriman secara drastis dari hulu disinyalir menjadi pemantik utama terjadinya kelangkaan massal dalam dua minggu terakhir ini.

​Ketakutan sempat membayangi para pemilik pangkalan di Atambua saat dimintai keterangan terkait mandeknya pasokan.

Kebanyakan dari mereka memilih bungkam dan enggan membeberkan identitas karena khawatir izin usaha mereka akan dibekukan oleh agen besar atau pihak berwenang jika terlalu vokal berbicara ke media.

​Namun, salah satu penjual yang berani bersuara,  Ronal (45), mengakui bahwa dirinya juga merasa “setengah mati” dan frustrasi menghadapi situasi sulit ini.

Dalam dua pekan terakhir, pasokan minyak tanah yang ia terima dari distributor resmi mengalami penyusutan volume yang sangat signifikan.

​”Kami sebagai penjual juga pusing, pasokan minyak ke pangkalan kami dikurangi drastis dan sekarang susah sekali dapat penyaluran yang normal,” ungkap Ronal dengan raut wajah gusar saat memberikan keterangan kepada wartawan, Minggu, 17 Mei 2026

​Akibat tersendatnya distribusi di tingkat pangkalan, efek domino langsung menghantam pasar spekulasi di tingkat pengecer.

Hukum ekonomi berlaku mutlak; ketika barang langka sementara permintaan tinggi, maka harga di tingkat pengecer liar akan melambung tanpa kendali.

​Di sejumlah pasar tradisional dan kios kecil di Atambua, harga minyak tanah eceran yang sebelumnya stabil di kisaran Rp 5.000 per liter, kini melonjak tajam.

Warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam karena harga di tingkat eceran telah menembus angka Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per liter.

​Lonjakan harga yang hampir mencapai seratus persen ini kian mencekik daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.

Sebagian warga bahkan dilaporkan mulai kesulitan untuk sekadar memasak kebutuhan pokok harian akibat tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan bakar.

​Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Kabupaten Belu masih menanti jawaban resmi dari pihak Pertamina dan Dinas Perdagangan setempat terkait alasan di balik pengurangan pasokan ini.

Publik berharap ada langkah cepat seperti operasi pasar darurat untuk menstabilkan kembali harga dan pasokan minyak tanah di bumi Sahabat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar