ROMA, GRANDISMA.COM – Paus Leo memberikan respons yang tenang namun tajam terhadap rentetan serangan verbal dari Presiden Donald Trump.
Berbicara kepada awak media di atas pesawat dalam penerbangan menuju Afrika pada Senin (13/04/2026), Paus menegaskan bahwa perannya adalah sebagai pembawa damai, bukan politikus yang haus debat.
Paus Leo menyatakan kekhawatirannya terhadap tren di mana pesan-pesan suci dari Injil sering kali disalahgunakan atau dimanipulasi oleh pihak tertentu demi kepentingan kekuasaan.
Ia menegaskan bahwa tugas utama Gereja adalah menyuarakan perdamaian, terutama bagi mereka yang tidak berdosa dan menjadi korban peperangan.
”Saya tidak ingin terjebak dalam debat kusir dengannya (Trump). Pesan Injil adalah tentang perdamaian, dan saya tidak akan membiarkan pesan itu disalahgunakan dengan cara yang dilakukan oleh beberapa orang saat ini,” tutur Paus Leo dengan nada yang sangat terukur namun penuh penekanan.
Terkait tuduhan Trump yang menyebutnya “lemah terhadap kejahatan,” Paus Leo membalas dengan menekankan pentingnya diplomasi multilateral.
Ia percaya bahwa solusi adil bagi konflik global, termasuk isu Iran, hanya bisa dicapai melalui dialog yang jujur antarnegara, bukan melalui ancaman senjata nuklir.
Paus Leo yang berasal dari Chicago ini menegaskan bahwa dirinya tidak takut menghadapi tekanan politik dari pemerintahan mana pun, termasuk pemerintahan negaranya sendiri.
Baginya, berdiri untuk kebenaran dan menentang pembunuhan warga sipil adalah mandat yang lebih tinggi daripada sekadar popularitas politik.
Dalam kesempatan tersebut, Paus juga mengutip ayat tentang “Berbahagialah mereka yang membawa damai,” sebagai landasan tindakannya.
Ia menolak anggapan bahwa sikapnya adalah bentuk intervensi liberal, melainkan murni merupakan pengamalan ajaran Kristen yang paling mendasar.
Respons Paus ini mendapatkan simpati luas dari komunitas internasional yang lelah dengan retorika konfrontatif.
Banyak pemimpin dunia melihat Paus Leo sebagai penyeimbang moral di tengah meningkatnya ketegangan antara kekuatan-kekuatan besar yang memiliki hulu ledak nuklir.
Selama tur 10 hari ke Afrika, Paus berencana untuk terus menyuarakan isu kemanusiaan dan keadilan sosial.
Ia ingin menunjukkan bahwa fokus Gereja tetap pada penderitaan umat manusia, meskipun ia terus dihujani kritik tajam dari Gedung Putih.
Para pendukung Paus Leo di Amerika Serikat menyambut baik sikap tenang ini. Mereka menilai bahwa dengan tidak membalas hinaan Trump dengan hinaan serupa, Paus telah menunjukkan kualitas kepemimpinan spiritual yang sesungguhnya di hadapan publik global.

