GRANDISMA.COM – Bayangkan saja, seorang wanita di Chile tahun 1984 duduk di depan dokter, mendengar berita yang membuat hatinya berdebar kencang.
USG menunjukkan janinnya mungkin cacat parah bahkan kemungkinan kembar siam dan kehamilannya bisa merenggut nyawanya. Dokter menyarankan satu hal: gugurkan.
Tetapi di hati Rosa Silva, ada suara yang lebih kuat: terima apa pun yang Tuhan kirimkan.
Tak ada yang menyangka, keputusan itu akan melahirkan dua bayi kembar sehat yang nantinya menjadi dua imam penuh semangat, yang hari ini menyebarkan kasih melalui media sosial dan pelayanan mereka.
Ini adalah kisah tentang keberanian seorang ibu, mukjizat yang tak terduga, dan panggilan hidup yang datang secara terpisah namun menyatu.
Pastor Paulo dan Felipe Lizama, dua saudara kembar yang ditahbiskan menjadi imam di Chile, memiliki kisah unik dan menakjubkan yang mulai dari saat mereka masih dalam kandungan.
Saat mereka berada dalam kandungan, ibu mereka, Rosa Silva, disarankan untuk menggugurkan putra kembarnya setelah dokter menduga adanya kelainan janin, kemungkinan kembar siam, saat pemeriksaan USG.
Silva mengatakan ia juga diberitahu bahwa kehamilannya dapat mengancam jiwa, membuat keputusan yang harus diambil semakin berat dan menantang.
Menolak putus asa, Silva mengatakan ia memutuskan untuk menerima “apa pun yang Tuhan kirimkan” dan memilih melahirkan bayi kembarnya tanpa ragu.
Entah dokter salah, atau Tuhan melakukan mukjizat, keluarganya tidak tahu; tetapi saat masa persalinan tiba, kedua bayi kembar itu lahir dengan sehat dan bugar.
“Saya selalu merasakan kasih sayang dan kelembutan yang istimewa ketika saya memikirkan hati ibu saya, yang rela mengorbankan nyawanya untuk saya; untuk kami,” kata Pastor Paulo dengan nada yang penuh rasa hormat.
Menjelang ulang tahun ke-18, mereka mengatakan bahwa mereka berdua secara terpisah mulai merasa terpanggil untuk menjadi imam, tanpa menyadari bahwa kembarnya merasakan hal yang sama.
Mereka tidak saling memberi tahu tentang rencana mereka untuk masuk seminari karena mereka tidak ingin saling memengaruhi; keduanya membuat keputusan sendiri dengan kebebasan hati.
“Saya tidak tahu siapa di antara kami berdua yang merasakan panggilan itu lebih dulu. Saya rasa Tuhan melakukan segalanya dengan sangat baik, untuk melindungi kebebasan tanggapan kita,” ujar Paulo dengan senyum.
Setelah ditahbiskan menjadi imam, kedua imam kembar ini terus berbagi kisah ajaib mereka saat melayani umat, membuat banyak orang terinspirasi.
Mereka tampak sungguh bahagia menjalani kehidupan imamat mereka, dengan senyuman yang selalu ada di wajah dan semangat yang tidak pernah memudar.
Keberanian ibu mereka adalah contoh lain dari anugerah indah yang datang dari pilihan hidup, bahkan ketika bayi yang belum lahir didiagnosis memiliki masalah kesehatan.
Jika ibu mereka memilih mengikuti anjuran dokter, maka bayi kembarnya tidak akan pernah lahir. Dan tentu gereja juga tidak pernah memiliki Paulo dan Filipe.
Rosa Silva pernah menghadapi dan berada dalam situasi sulit itu di tahun 1984, ketika semua orang menyarankan dia untuk menghentikan kehamilannya.
Dan siapa menyangka kalau Rosa kemudian melahirkan dua anak kembar yang dia beri nama Paulo Lizama dan Felipe Lizama, yang kini adalah dua imam di Keuskupan Valparaiso, Chile.
Kisah hidup Rosa Silva dan kedua putranya ini pernah viral ketika kedua putranya menerima tahbisan imamat di tahun 2013, menarik perhatian banyak orang di seluruh negeri.
Dan sekarang, menjelang 12 tahun usia imamat, Padre Paulo dan Padre Felipe tetap setia pada imamat mereka, selalu bersemangat dalam karya pelayanan.
Keduanya memanfaatkan media sosial secara sangat baik dalam menginjili dunia, membuat pesan iman lebih dekat dengan orang muda.
Empat Puluh tahun lalu, kedua orang tua dari Pastor itu, Rosa dan Humberto, tentu tidak pernah membayangkan rahmat yang begitu besar yang boleh Allah percayakan kepada mereka.
Bagi Paulo dan Felipe, jalan yang dilalui menuju imamat bukanlah jalan yang lurus dan mulus — semangat bermain bola kadang-kadang lebih menggelora daripada menghadiri misa.
Ketika berusia 14 tahun, orang tua mereka bercerai. Sejak itu, Felipe dan Paulo menghabiskan lebih banyak waktu dalam kegiatan-kegiatan kegerejaan.
Dan ketika berusia 16 tahun, keduanya memutuskan berhenti bermain bola kaki dan melibatkan diri lebih intensif lagi dalam kegiatan-kegiatan gereja.
Felipe dan Pauolo memikirkan dan memutuskan sendiri-sendiri untuk masuk seminari, tanpa ingin memengaruhi keputusan kembarannya.
Setelah 10 tahun belajar dan melewati masa persiapan di seminar, Felipe dan Paulo akhirnya ditahbiskan menjadi pastor bersama-sama di Katedral Valparaiso pada tanggal 28 April 2012.
Sekarang media sosial telah menjadi bagian penting dari kerasulan mereka, memperlihatkan betapa mereka berdua adalah pastor yang senantiasa bergembira, memiliki rasa humor yang tinggi, dan selalu dekat dengan keluarga serta kecintaan mereka pada sepak bola.
Kisah Rosa Silva, Paulo, dan Felipe tidak hanya menceritakan kelahiran dua imam kembar, tetapi juga memanggil kita untuk melihat apa yang terjadi ketika kita menyerahkan segala-galanya pada Tuhan.
Kadang kita berdiri di ambang pilihan yang menakutkan, mendengar suara dunia yang mengatakan “berhenti” atau “gugurkan”, tetapi di hati ada suara yang lebih lembut namun lebih kuat: “percaya padaku”.
Rosa memilih untuk mendengar suara itu, dan hasilnya adalah dua jiwa yang hari ini menyebarkan cahaya iman ke sudut-sudut dunia.
Pertanyaan yang terngiang-ngiang sekarang adalah: apakah kita bersedia membuat pilihan yang sama ketika kesulitan datang? Apakah kita percaya bahwa Tuhan selalu memiliki rencana yang lebih baik, bahkan ketika segala sesuatu tampak tidak mungkin?
Setiap keputusan yang penuh keberanian untuk mempercayai Tuhan, ada kemungkinan mukjizat yang siap terwujud bahkan bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang akan disentuh oleh hidup kita.







