Garap Potensi EBT, Melki Laka Lena Siapkan NTT Jadi Lumbung Energi Bersih Nasional

BERITA, DAERAH64 Dilihat

Garap Potensi EBT, Melki Laka Lena Siapkan NTT Jadi Lumbung Energi Bersih NasionalKUPANG, GRANDISMA.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi menyatakan kesiapannya untuk mengakselerasi transisi energi nasional.

Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 Gigawatt (GW) secara nasional.

​Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa wilayahnya memiliki modalitas geografis yang sangat mendukung visi tersebut.

NTT, yang dikenal dengan durasi paparan matahari yang panjang, diproyeksikan menjadi tulang punggung pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia Timur.

​Dalam pertemuan di Rumah Jabatan Gubernur pada Selasa (24/3/2026), Melki menerima kunjungan strategis dari jajaran PLN UIW NTT dan akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana).

Pertemuan ini menjadi titik mula penyelarasan kebijakan pusat dengan eksekusi di tingkat daerah.

​Melki menekankan bahwa transisi dari energi fosil ke energi bersih bukan sekadar tren global, melainkan keharusan strategis.

Menurutnya, kemandirian energi akan berdampak langsung pada efisiensi ekonomi daerah dan ketahanan nasional dalam jangka panjang.

​“Pemerintah Provinsi NTT tidak akan sekadar menunggu instruksi, tapi aktif menyiapkan karpet merah bagi investasi hijau,” ujar Melki di hadapan General Manager PLN NTT, F. Eko Sulistyono, dan Kepala Dinas ESDM NTT, Viktor Manek.

​Kerja sama dengan Undana melalui Dekan Fakultas Sains dan Teknik, Prof. Philiphi de Rozari, juga menjadi sorotan utama.

Melki menginginkan agar kebijakan teknis di lapangan memiliki landasan saintifik yang kuat agar proyek yang dibangun bersifat berkelanjutan.

​Pemetaan potensi energi di NTT kini tengah dikebut. Fokusnya tidak hanya pada wilayah yang sudah teraliri listrik, tetapi juga pada daerah-daerah terpencil yang selama ini masih bergantung pada generator berbahan bakar fosil yang mahal.

​Hasil pemetaan tersebut nantinya akan diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan lokal.

Harapannya, NTT tidak hanya menjadi lokasi proyek, tetapi juga melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang ahli dalam mengelola teknologi energi terbarukan secara mandiri.

​Di sisi lain, General Manager PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono, memandang komitmen ini sebagai momentum emas.

PLN berencana memperkuat sistem interkoneksi kelistrikan di NTT agar mampu menampung beban besar dari pembangkit EBT baru.

​Kolaborasi ini juga mencakup evaluasi terhadap proyek-proyek energi yang sudah berjalan.

PLN ingin memastikan bahwa transisi ini berjalan terukur tanpa mengganggu stabilitas pasokan listrik bagi pelanggan rumah tangga maupun industri kecil di pelosok NTT.

​Rencana pembangunan unit percontohan atau pilot project di beberapa lokasi prioritas sedang disusun.

Lokasi-lokasi ini akan menjadi standar bagi replikasi pengembangan energi surya dan jenis EBT lainnya di pulau-pulau di seluruh NTT.

​Melalui sinkronisasi antara pemerintah, PLN, dan akademisi, NTT optimistis mampu memberikan kontribusi signifikan bagi target 100 GW nasional.

Langkah ini diharapkan membawa manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan Bumi Flobamora.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *