BELU, GRANDISMA.COM – Pemerintah Kabupaten Belu menyatakan kesiapannya untuk memenuhi undangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Lautem, Timor Leste, dalam rangka menghadiri perhelatan kebudayaan lintas batas bertajuk Festival Fronteira 2026.
Pernyataan dukungan penuh tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay, saat menerima kunjungan kehormatan delegasi Timor Leste di Ruang Kerja Bupati Belu, Atambua, Senin (5/10)
Pertemuan bilateral tingkat daerah ini berlangsung hangat dengan fokus pembahasan mengenai penguatan hubungan kemitraan di perbatasan.
Willybrodus Lay menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kepercayaan dan penghormatan yang diberikan oleh otoritas Timor Leste.
Menurutnya, undangan langsung dari pejabat tinggi Kabupaten Lautem merupakan manifestasi nyata dari kokohnya tali persahabatan antara kedua bangsa.
Bupati Belu menilai bahwa instrumen pertukaran budaya memegang peranan krusial dalam merawat ingatan kolektif dan hubungan kekerabatan warga.
Hal ini mengingat masyarakat di kawasan perbatasan Belu dan Timor Leste memiliki jalinan sejarah, ikatan darah, serta tradisi adat yang saling terhubung erat.
Ajang Festival Fronteira 2026 direncanakan bergulir selama empat hari, mulai 23 hingga 26 Oktober 2026, berlokasi di Pantai Kom, Kabupaten Lautem.
Kawasan tersebut akan disulap menjadi pusat interaksi seni, pameran ekonomi warga, serta panggung dialog antarbangsa.
Delegasi Timor Leste yang hadir di Atambua dipimpin langsung oleh Bupati Los Palos, Melio de Jesus.
Turut mendampingi dalam rombongan tersebut antara lain Direktur Jenderal SEAC Felix Ximenes, Kepala Bagian SEAC Claudio Marques Cabral, Direktur PAM Los Palos Martinho Esteves, serta Kabag Finance PAM Los Palos.
Kehadiran jajaran pejabat lintas kementerian dan daerah Timor Leste tersebut menegaskan keseriusan negara tetangga dalam mengemas Festival Fronteira 2026 sebagai agenda strategis.
Acara ini diproyeksikan tidak hanya menjadi panggung hiburan, melainkan instrumen konsolidasi perdamaian.
Rangkaian ajang ini akan diisi oleh beragam agenda, mulai dari upacara adat Fataluku, parade busana daerah, pameran tenun tais dan UMKM, pergelaran seni pertunjukan, hingga seminar akademik terkait rekonsiliasi kawasan.
Seluruh kegiatan dirancang untuk mempertemukan para pelaku seni, tokoh adat, dan elemen masyarakat perbatasan.
Melalui sinergi kebudayaan ini, kedua belah pihak optimistis mampu menciptakan iklim perbatasan yang kondusif, damai, dan saling mendukung kemajuan ekonomi warga lokal di kawasan terdepan Indonesia dan Timor Leste.
