KUPANG, GRANDISMA.COM – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2026 akan tetap berada di jalur positif. Pertumbuhan diperkirakan bergerak di rentang 4,94 persen hingga 5,54 persen.
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, mengungkapkan proyeksi tersebut dalam acara Flobamora Business and Economic Forum di Kupang, Kamis (23/4). Optimisme ini didasarkan pada kinerja solid berbagai sektor utama di awal tahun.
Meskipun optimis, Adidoyo memperingatkan adanya sejumlah tantangan global yang tetap harus diwaspadai. Ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas internasional menjadi risiko yang nyata bagi daerah.
”Gangguan rantai pasok global serta pengetatan kebijakan fiskal di beberapa negara maju turut memengaruhi iklim investasi lokal,” jelas Adidoyo dalam paparannya.
Untuk memitigasi risiko tersebut, BI menyarankan penguatan program ekonomi kerakyatan sebagai tameng utama. Ketahanan pangan lokal harus diperkuat agar NTT tidak terlalu bergantung pada pasokan luar pulau.
Adidoyo juga menyoroti sektor perdagangan dan akomodasi makan minum yang mulai bangkit pasca-pandemi. Kehadiran berbagai perhelatan nasional di NTT diprediksi akan menjadi pengungkit konsumsi rumah tangga.
Selain itu, hilirisasi rumput laut, jambu mete, dan kopi diharapkan menjadi mesin baru pertumbuhan. Komoditas ini memiliki permintaan tinggi di pasar ekspor jika dikelola secara profesional.
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar dan mengawal distribusi likuiditas di NTT. Penyaluran kredit yang tepat sasaran menjadi fokus koordinasi bersama pemerintah daerah.
Sinergi antara otoritas moneter dan fiskal di tingkat provinsi diyakini mampu meredam tekanan eksternal. Adidoyo menekankan pentingnya transparansi data untuk menarik minat investor asing masuk ke NTT.
Peningkatan produksi komoditas unggulan harus dibarengi dengan efisiensi logistik di wilayah kepulauan. Infrastruktur pelabuhan yang memadai menjadi syarat mutlak agar proyeksi pertumbuhan 5,54 persen dapat tercapai.
BI juga mendorong digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS di pasar-pasar tradisional seluruh NTT. Hal ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem ekonomi digital yang lebih inklusif dan transparan.
Laporan proyeksi ini diharapkan menjadi panduan bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun rencana strategis tahun berjalan.






