KUPANG, GRANDISMA.COM – Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) menggelar seminar nasional bertajuk “Penguatan Culturepreneurship Berbasis Kearifan Lokal untuk Mendorong Ekonomi Kreatif dan Kewirausahaan Berkelanjutan” di Aula St. Hendrikus, Penfui, Kupang, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Dies Natalis ke-43 FEB UNWIRA sekaligus upaya memperkuat pemahaman mahasiswa tentang peluang bisnis berbasis kebudayaan lokal.
Dekan FEB UNWIRA, Dr. M. E. Perseverenda, S.E., M.Si., menekankan pentingnya menumbuhkan jiwa bisnis berbasis budaya lokal dalam diri generasi muda.
Menurutnya, culturepreneurship perlu ditanamkan sebagai cara berpikir dan semangat kewirausahaan agar generasi muda mampu melihat kekayaan budaya bukan sekadar warisan leluhur, melainkan juga sumber inspirasi untuk menciptakan peluang usaha yang bernilai ekonomi.
“Culturepreneurship harus ditumbuhkan dalam jiwa generasi muda. Selain itu, diharapkan setelah seminar ini, mahasiswa mampu mewujudnyatakan ide bisnis berbasis budaya lokal yang ada, sehingga kekayaan budaya lokal dapat kita jadikan sebagai penggerak ekonomi dalam dunia bisnis berbasis budaya ini,” tegas Perseverenda.
Seminar tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Fransiskus Xaverius Lara Aba, S.E., M.Ec., Ph.D.; Sam Junaedi Ludji dari kalangan praktisi; serta Dr. Henny A. Manafe, S.E., M.M.
Diskusi dipandu oleh Dr. Kornelius KelemurKroon, S.E., M.M.
Perpaduan perspektif akademisi dan praktisi diharapkan memperluas wawasan mahasiswa mengenai pengembangan ide bisnis, inovasi, strategi pemasaran, serta pengelolaan usaha yang berkelanjutan.
NTT memiliki kekayaan budaya yang beragam, mulai dari tenun ikat, kerajinan tradisional, kuliner khas, seni pertunjukan hingga pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.
Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi produk dan layanan kreatif yang memiliki identitas kuat sekaligus mampu menjawab kebutuhan pasar.
Namun, pengembangannya perlu memperhatikan nilai filosofis, makna budaya, dan kepentingan masyarakat pemilik tradisi.
Melalui seminar ini, mahasiswa FEB UNWIRA didorong untuk menghubungkan pengetahuan ekonomi dan bisnis dengan realitas sosial serta potensi daerah.
Pengembangan usaha berbasis budaya membutuhkan kreativitas, pemanfaatan teknologi, kolaborasi, dan kemampuan membaca peluang pasar agar produk lokal mampu bersaing tanpa kehilangan karakter dan identitasnya.
Dalam momentum Dies Natalis ke-43, FEB UNWIRA berharap kegiatan akademik tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi pemantik lahirnya gagasan dan inisiatif bisnis nyata dari kalangan mahasiswa.
Dengan menumbuhkan jiwa culturepreneurship, generasi muda diharapkan mampu menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan ekonomi kreatif sekaligus berkontribusi terhadap pelestarian budaya dan pembangunan NTT.
