WASHINGTON, GRANDISMA.COM – Amerika Serikat secara resmi mengumumkan berakhirnya operasi tempur “Epic Fury” yang menargetkan wilayah Iran.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, di Washington pada Kamis (07/05/2026) waktu setempat.
Rubio menyatakan bahwa fase serangan aktif telah selesai seiring tercapainya target-target strategis militer.
Operasi Epic Fury, yang melibatkan serangan udara dan siber terhadap fasilitas nuklir serta infrastruktur militer Iran, diklaim Washington telah berhasil melemahkan kemampuan ofensif Teheran.
Rubio menegaskan bahwa fokus militer Amerika Serikat kini akan dialihkan sepenuhnya pada pengamanan jalur perdagangan internasional, khususnya di Selat Hormuz.
Meskipun Washington mengklaim kemenangan, penghentian operasi ini dipandang secara berbeda oleh para pakar internasional.
Pizaro Gozal Idrus, seorang pengamat Timur Tengah, menilai berakhirnya Epic Fury justru menunjukkan kegagalan strategi agresi AS di Iran yang tidak mampu memadamkan semangat perlawanan Teheran meski telah berlangsung selama hampir dua bulan.
Idrus menyebutkan bahwa blokade militer dan serangan terhadap fasilitas nuklir di Pulau Kharg ternyata gagal melumpuhkan eksistensi Iran.
Sebaliknya, Iran masih mampu memberikan serangan balasan menggunakan drone terhadap kapal-kapal tempur Amerika Serikat di perairan Oman, yang membuktikan kekuatan defensif Iran tetap solid.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa berakhirnya operasi Epic Fury bukanlah hal yang mengejutkan.
Dalam pernyataannya di Yerusalem, Netanyahu meyakini bahwa meski operasi tempur besar berakhir, Amerika Serikat tetap memiliki cara lain untuk mencapai tujuan utama, yaitu melumpuhkan program nuklir Iran secara permanen.
Presiden Donald Trump sendiri mengomentari situasi ini dengan nada yang lebih diplomatis namun skeptis.
Trump menyebutkan bahwa komunikasi dengan pihak Iran sebenarnya berlangsung, namun ia menuding para pemimpin Iran tidak konsisten dan terlalu mengedepankan harga diri (pride) dalam meja negosiasi.
Dengan berakhirnya Epic Fury, beban militer AS di kawasan tersebut diharapkan berkurang, namun ketegangan di laut tetap tinggi.
Fokus kini beralih pada bagaimana AS akan mempertahankan dominasinya di Selat Hormuz tanpa melakukan agresi darat atau udara skala besar ke daratan Iran.
Langkah ini juga dipandang sebagai strategi politik domestik menjelang kampanye Midterm Election di Amerika Serikat pada bulan Agustus mendatang, di mana anggaran perang yang besar mulai menjadi sorotan publik Amerika.
