Donald Trump Terang-terangan Kritik Paus Leo, Sebut Pemimpin Gereja Katolik Terlalu Liberal

Donald Trump Terang-terangan Kritik Paus Leo, Sebut Pemimpin Gereja Katolik Terlalu LiberalNEW YORK, GRANDISMA.COM- Hubungan antara Gedung Putih dan Takhta Suci Vatikan berada di titik terendah setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik tajam terhadap Paus Leo.

Trump secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya terhadap pandangan politik sang Paus yang dianggapnya terlalu condong ke sayap kiri atau liberal.

​Kritik ini disampaikan Trump pada Minggu malam waktu setempat, di mana ia menyoroti sikap Paus Leo terkait kebijakan keamanan nasional dan kepemilikan senjata nuklir.

Trump menegaskan bahwa dirinya bukan merupakan “penggemar” dari tokoh religius yang baru saja terpilih sebagai Paus pertama asal Amerika Serikat tersebut.

​Sentimen Trump ini berakar pada perbedaan visi mengenai hukum dan ketertiban.

Presiden ke-45 AS itu menilai Paus Leo terlalu lunak dalam memandang isu kriminalitas global dan justru lebih fokus pada diplomasi yang dianggapnya tidak praktis untuk kepentingan keamanan Amerika.

​Ketegangan ini dipicu oleh kritik vokal Paus Leo terhadap intervensi militer Amerika Serikat di luar negeri.

Paus Leo sebelumnya secara konsisten menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan AS dalam konflik bersenjata di Iran, sebuah posisi yang berbenturan langsung dengan agenda kebijakan luar negeri Trump.

​Dalam sebuah wawancara, Senin, 13 Maret 2026, Trump tetap bersikukuh pada posisinya.

Ia menyatakan bahwa meskipun Paus adalah pemimpin spiritual, namun dalam hal kebijakan publik dan keamanan negara, Paus Leo dianggap berada di jalan yang keliru.

​Komentar Trump ini segera memicu reaksi berantai di seluruh dunia, mengingat status Paus Leo sebagai pemimpin bagi 1,4 miliar umat Katolik.

Banyak pihak menilai serangan personal terhadap pemimpin agama adalah langkah yang tidak lazim dilakukan oleh seorang kepala negara aktif.

​Para pengamat politik internasional menyebut bahwa serangan Trump ini ditujukan untuk mengamankan basis pemilih konservatifnya.

Dengan melabeli Paus sebagai sosok “liberal”, Trump mencoba memisahkan pengaruh moral Gereja dari kebijakan politik praktis yang ia jalankan.

​Di sisi lain, publik di New York mulai menunjukkan keresahan mereka. Beberapa komunitas keagamaan mulai menyuarakan keprihatinan atas retorika yang dianggap dapat memecah belah persatuan antar umat beragama dan negara.

​Perseteruan ini diperkirakan akan terus memanas seiring dengan rencana Paus Leo untuk terus menyuarakan isu-isu perdamaian di panggung internasional.

Bagi Trump, sikap Paus ini dianggap sebagai gangguan terhadap kedaulatan politik domestik dan luar negerinya.

​Hingga saat ini, pihak Vatikan belum memberikan respons resmi terkait pelabelan “liberal” tersebut.

Namun, suasana diplomatik antara Washington dan Roma dipastikan akan mengalami masa transisi yang sulit di bawah bayang-bayang rivalitas kedua tokoh ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *