3.134 Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Belu, Empat Orang Meninggal Dunia

BERITA, KESEHATAN35 Dilihat

3.134 Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Belu, Empat Orang Meninggal DuniaBELU, GRANDISMA.COM – Ancaman rabies menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Sejak kasus rabies masuk ke wilayah tersebut pada 2024 hingga September 2026, tercatat 3.134 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), dengan empat korban jiwa.

Data ini mempertegas pentingnya penguatan pencegahan, penanganan, dan pengawasan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Persoalan tersebut disoroti Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, Elly Ch. Rambitan, S.H., saat membuka Rapat Koordinasi Teknis One Health dan Tim Koordinasi Daerah (Tikorda) Zoonosis serta Penyakit Infeksius Baru di Aula Hotel Setia, Atambua, Senin (19/10/2026).

Menurut Elly, ancaman kesehatan di wilayah perbatasan semakin kompleks. Selain rabies, pemerintah daerah juga perlu mewaspadai penyakit seperti leptospirosis, antraks, dan flu burung.

Penanganannya membutuhkan kesiapsiagaan yang terencana serta keterlibatan berbagai sektor.

“Kesehatan merupakan fondasi pembangunan. Namun, ancaman saat ini semakin kompleks. Penyakit seperti rabies, leptospirosis, antraks, hingga flu burung memerlukan kesiapsiagaan serius. Kita tidak bisa bekerja secara parsial,” tegas Elly dalam rapat koordinasi tersebut.

Selain kasus gigitan hewan penular rabies, Elly turut menyoroti indikator kesehatan masyarakat lainnya.

Hingga Oktober 2026, Kabupaten Belu mencatat empat kasus kematian ibu dan 35 kasus kematian bayi. Meski angka stunting disebut berhasil ditekan, upaya penurunan prevalensinya tetap menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah.

Elly menilai posisi geografis Belu yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor-Leste membutuhkan sistem kewaspadaan dini yang kuat.

Mobilitas penduduk dan interaksi manusia dengan hewan serta lingkungan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam upaya mencegah masuk dan menyebarnya penyakit.

Karena itu, ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah dan pemangku kepentingan memperkuat koordinasi, meningkatkan surveilans, mempercepat respons terhadap potensi kejadian luar biasa, serta memperluas edukasi kepada masyarakat hingga tingkat desa.

Pemerintah juga didorong menyusun rencana aksi yang terukur dan dapat dievaluasi, bukan sekadar menghasilkan kesepakatan administratif.

Rapat koordinasi tersebut turut mendapat dukungan dari Kemitraan Australia-Indonesia untuk Transformasi Kesehatan (KITA SEHAT).

Health Security Specialist KITA SEHAT, Andri Jati Kusuma, menekankan pentingnya data lapangan yang akurat sebagai dasar penyusunan program kesehatan untuk 2027.

Dengan tingginya angka gigitan hewan penular rabies yang tercatat, penguatan pencegahan dan respons lintas sektor menjadi kebutuhan mendesak di Kabupaten Belu.

Pemerintah daerah diharapkan mampu memastikan koordinasi antarlembaga berjalan efektif, sehingga ancaman kesehatan dapat dikenali lebih awal dan risiko terhadap keselamatan masyarakat dapat ditekan. (ForkopimdaBelu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *