WALHI NTT Sebut Aktivitas Tambang Rakyat di Wanggameti Percepat Krisis Ekologi  

BERITA, DAERAH207 Dilihat

WALHI NTT Sebut Aktivitas Tambang Rakyat di Wanggameti Percepat Krisis Ekologi   Kupang, Grandisma.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan bahwa aktivitas tambang rakyat di kawasan Wanggameti, Sumba Timur, mempercepat terjadinya krisis ekologi.

Pernyataan Direktur WALHI NTT

Direktur WALHI NTT Yuvensius Stefanus Nong menyampaikan hal ini dalam siaran pers yang dirilis di Kupang, Minggu (26/1).

Menurutnya, aktivitas pertambangan yang masuk ke kawasan bentang alam vital dapat merugikan banyak aspek. Tanah terbuka, vegetasi hilang, aliran air berubah, dan kualitas lingkungan menurun.

Alam yang seharusnya menopang kehidupan masyarakat Sumba Timur pun akan rusak. Akibatnya, sektor pertanian dan ketersediaan air bersih bisa mengalami kelumpuhan.

Kritik terhadap Kebijakan Pengelolaan SDA

Selain masalah lingkungan, Yuvensius juga mengkritisi kebijakan dan praktik pengelolaan sumber daya alam (SDA).

Wilayah penting sering diperlakukan sebagai ruang di mana masyarakat bisa dikorbankan.

Ia menjelaskan, negara lebih fokus pada aktivitas ekstraksi ketimbang memastikan perlindungan kawasan penyangga kehidupan.

Karena itu, tekanan terhadap wilayah seperti Wanggameti membawa risiko ganda mengingat NTT memiliki kerentanan ekologis tinggi.

Dampak yang Meresahkan Masyarakat

Secara khusus, curah hujan terbatas dan musim kering panjang membuat fungsi kawasan hulu sebagai penyimpan dan pengatur air sangat krusial.

Jika kawasan ini terganggu, kekeringan akan semakin parah, sumber air menyusut, dan beban hidup masyarakat meningkat.

Di antaranya, perempuan, petani kecil, dan komunitas yang bergantung langsung pada alam menjadi kelompok paling terdampak.

Ketimpangan Manfaat dan Kerusakan

Berdasarkan pengamatan WALHI NTT, terdapat ketimpangan yang nyata dari aktivitas tambang tersebut. Manfaat ekstraksi hanya dirasakan sebagian kecil dan dalam jangka pendek.

Sebaliknya, kerusakan ekologis ditanggung luas oleh masyarakat dan berlangsung lama.

Lembaga ini menegaskan, perlindungan wilayah seperti Wanggameti harus jadi prioritas utama.

Kawasan penyangga kehidupan tidak boleh diperlakukan sebagai cadangan ruang eksploitasi.

Panggilan untuk Perubahan Mendasar

Yuvensius menegaskan, tanpa perubahan mendasar dalam cara negara mengelola tanah, air, dan hutan, krisis ekologis di NTT akan semakin dalam.

Masyarakat akan terus menanggung dampak dari keputusan yang tidak mereka tentukan.

Menurutnya, menjaga Wanggameti berarti menjaga keberlanjutan hidup masyarakat Sumba Timur saat ini dan ke depannya.

Karena itu, ketika wilayah penyangga kehidupan rusak, yang hilang bukan hanya lanskap alam, tetapi juga fondasi kehidupan sosial di NTT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *