Tolak Anggapan Anak Bodoh, Gubernur NTT Instruksikan Guru Lakukan Kunjungan Rumah untuk Deteksi Masalah Siswa

Tolak Anggapan Anak Bodoh, Gubernur NTT Instruksikan Guru Lakukan Kunjungan Rumah untuk Deteksi Masalah SiswaSOE, GRANDISMA.COM – Menanggapi kegelisahan para pendidik terkait rendahnya disiplin siswa, Gubernur NTT Melki Laka Lena mengeluarkan instruksi tegas yang mengubah pola pendekatan guru terhadap murid di luar sekolah.

Dalam forum sosialisasi di Soe, Melki mematahkan stigma negatif yang sering disematkan kepada siswa berprestasi rendah.

Ia menegaskan tidak ada anak yang bodoh, melainkan yang ada adalah anak yang belum menemukan metode belajar yang tepat atau guru yang belum menemukan formula bimbingan yang pas.

​Guna menjembatani kesenjangan tersebut, Gubernur mendesak para guru untuk keluar dari zona nyaman ruang kelas dan lebih aktif menjalin komunikasi langsung dengan wali murid.

Salah satu metode konkret yang diwajibkan adalah pelaksanaan kunjungan rumah (home visit) secara berkala, terutama bagi siswa yang menunjukkan gejala kesulitan belajar atau pelanggaran kedisiplinan.

Langkah jemput bola ini dianggap sebagai bentuk kepedulian humanis yang mampu menyentuh akar persoalan psikologis anak.

​”Kadang-kadang jawaban dari masalah anak itu ada di rumahnya. Guru perlu mengetahui lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang,” kata Melki.

Dengan melihat langsung kondisi sosio-ekonomi dan pola asuh di rumah, pihak sekolah dapat merumuskan perlakuan khusus yang lebih efektif bagi siswa yang bersangkutan, ketimbang hanya memberikan hukuman akademis yang tidak solutif di sekolah.

​Sejalan dengan kebijakan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, yang mendampingi Gubernur, menegaskan bahwa rumah tangga adalah sekolah pertama dan orang tua adalah guru utama.

Dinas Pendidikan menargetkan keterhubungan yang erat antara ekosistem sekolah dan domestik ini sudah harus terimplementasi secara menyeluruh pada tahun ajaran 2026/2027.

Sekolah bersama komite juga diminta segera menyusun regulasi turunan yang adaptif dengan kearifan lokal masing-masing.

​Implementasi teknis dari gerakan gotong royong ini juga mencakup penyesuaian agenda-agenda kemasyarakatan.

Pemerintah provinsi dan kabupaten berkomitmen untuk mengatur ulang jadwal kegiatan birokrasi, adat, maupun keagamaan agar tidak bertabrakan dengan waktu belajar anak di malam hari.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menciptakan lingkungan yang steril dari kebisingan sosial selama jam belajar berlangsung.

​Melalui sinergi baru ini, posisi guru tidak lagi hanya sebagai pengajar materi di papan tulis, melainkan bertindak sebagai mentor yang memahami dinamika kehidupan sosial muridnya.

Langkah proaktif ini dipercaya akan mengembalikan kepercayaan diri anak-anak di NTT bahwa mereka memiliki kapasitas yang sama untuk bersaing.

Sentuhan personal dari guru dan pengawasan ketat dari orang tua menjadi modal utama mendongkrak kembali nilai akademik yang sempat terpuruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *