ATAMBUA, GRANDISMA.COM – Di balik kemeriahan panggung budaya dan kedatangan para diplomat asing, Festival Fulan Fehan 2026 sesungguhnya mengusung misi ekonomi yang pragmatis.
Pemerintah Kabupaten Belu secara terbuka mengincar dampak ekonomi berganda (multiplier effect) bagi masyarakat lokal.
Sektor pariwisata diposisikan sebagai tuas penggerak untuk memulihkan daya beli warga di wilayah pedalaman perbatasan.
Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, mengingatkan seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar tidak melihat festival ini sebagai proyek pembuangan anggaran daerah semata.
Setiap rupiah dari APBD yang dikucurkan untuk festival wajib kembali ke kantong masyarakat dalam bentuk pendapatan riil.
Target ini hanya bisa dicapai jika manajemen festival berpihak pada pelaku usaha kecil.
”Tujuan akhir dari kemeriahan acara ini adalah pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah kita,” tegas Vicente saat memimpin rapat koordinasi di Ruang Rapat Lantai Satu Kantor Bupati Belu, Selasa, 2 Juni 2026.
Ia menginstruksikan Dinas Koperasi dan UMKM untuk mengurasi ratusan perajin tenun ikat dan pelaku kuliner lokal agar mendapatkan lapak strategis di area festival.
Pihak panitia memproyeksikan perputaran uang tunai yang masif selama tiga hari penyelenggaraan festival di akhir Juni nanti.
Sektor akomodasi seperti hotel di Kota Atambua hingga rumah tinggal (homestay) milik warga di kaki Gunung Lakaan dilaporkan mulai menerima pesanan pemesanan.
Lonjakan permintaan ini diharapkan mampu menggerakkan ekosistem bisnis turunan, termasuk penyewaan kendaraan dan pemandu wisata.
Vicente juga menggarisbawahi pentingnya kualitas pelayanan dari para pelaku usaha lokal dalam menyambut tamu internasional.
Keramahan dan transparansi harga menjadi kunci utama agar para wisatawan asing merasa terkesan dan tidak kapok untuk berkunjung kembali.
Kesan positif yang tertanam di benak pengunjung akan memastikan arus kunjungan wisata tetap mengalir meski festival telah usai.
Selain itu, festival ini menjadi ajang pameran dagang yang efektif untuk memperkenalkan komoditas unggulan Belu ke pasar global.
Produk kopi mutis, kerajinan tangan khas Lamaknen, hingga produk fashion berbasis tenun ikat akan dipajang di gerai khusus yang mudah diakses delegasi luar negeri.
Kontak bisnis baru antara pengusaha lokal dan pembeli asing diharapkan bisa tercipta dari momentum ini.
Optimisme Pemkab Belu ini didasarkan pada tren positif penyelenggaraan festival pada edisi-edisi sebelumnya yang terbukti mendongkrak PAD sektor pariwisata.
Kendati demikian, dinas teknis tetap diingatkan untuk mengawasi stabilitas harga kebutuhan pokok di sekitar lokasi acara agar tidak terjadi inflasi musiman.
Keseimbangan pasar lokal harus tetap dijaga demi melindungi konsumen domestik.
Melalui strategi ekonomi yang terintegrasi ini, Festival Fulan Fehan 2026 mencoba melepaskan diri dari kesan proyek seremonial yang kering esensi.
Keberhasilan festival tidak lagi diukur dari seberapa riuh tepuk tangan di bawah panggung, melainkan dari seberapa tebal dompet para pedagang kecil di akhir acara.
Pertumbuhan ekonomi yang inklusif di tapal batas kini menjadi target mutlak yang wajib dieksekusi.






