Mendagri Tito Karnavian Dorong Kampung Adat Matabesi Miliki Daya Tarik Edukasi Bagi Ilmuwan dan Wisatawan

BERITA, DAERAH26 Dilihat

​Mendagri Tito Karnavian Dorong Kampung Adat Matabesi Miliki Daya Tarik Edukasi Bagi Ilmuwan dan WisatawanATAMBUA, GRANDISMA.COM – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Muhammad Tito Karnavian memberikan atensi khusus terhadap kelestarian Kampung Adat Matabesi dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Belu, NTT.

Mantan Kapolri tersebut menekankan pentingnya rekontekstualisasi peran situs adat agar memiliki “tenaga” dan makna yang mendalam bagi setiap pengunjung yang datang.

Otoritas pusat menginginkan agar situs sejarah di tapal batas negara tidak hanya berfungsi sebagai benda mati pelengkap pariwisata, melainkan menjadi pusat dokumentasi pengetahuan.

​Merespons arahan tersebut, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyatakan akan segera melakukan pendekatan kultural yang inklusif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) lokal.

Pemerintah daerah menjadwalkan pertemuan intensif dengan para tua adat selaku pemegang otoritas spiritual tertinggi di Matabesi, serta aparat birokrasi tingkat bawah seperti Lurah Umanen dan Camat Atambua Barat.

Pendekatan persuasif ini krusial untuk menyamakan persepsi antara visi modernisasi pariwisata dan pelestarian hukum adat.

​”Kita akan duduk bersama bagaimana membuat tempat ini bermakna bagi semua yang datang, baik bagi para ilmuwan maupun pelaku pariwisata,” kata Gubernur Laka Lena, Minggu (28/06/2026).

Ia menambahkan bahwa target utama dari koordinasi ini adalah melahirkan konsep wisata yang edukatif dan spiritual, sehingga pengunjung mendapatkan pemahaman mendalam mengenai kosmologi masyarakat Belu.

​Konsep pengembangan yang berorientasi pada ilmu pengetahuan (science-based tourism) akan membuka pintu lebar bagi para peneliti, sejarawan, dan antropolog domestik maupun mancanegara untuk melakukan kajian ilmiah.

Kampung Adat Matabesi dinilai menyimpan kekayaan data sosial mengenai pola hidup, sistem kekerabatan, dan arsitektur tradisional suku-suku di Pulau Timor yang belum banyak terekspos.

Transformasi ini diyakini mampu menaikkan nilai intrinsik kawasan dari sekadar objek tontonan estetik menjadi subjek pembelajaran.

​Di sisi lain, bagi segmen wisatawan umum, pengelola akan menyajikan pengalaman spiritual (spiritual experience) melalui pengenalan ritual-ritual adat yang dilakukan secara autentik dan terjadwal.

Penyelarasan ini membutuhkan komitmen tinggi dari para pemuda adat agar mampu mengomunikasikan nilai-nilai luhur mereka kepada publik internasional.

Kemendagri berjanji akan ikut memantau perkembangan tata kelola destinasi ini agar tetap berjalan di koridor pelestarian kebudayaan nasional yang sehat.

​Melalui integrasi fungsi edukasi dan pariwisata ini, Kampung Adat Matabesi diproyeksikan menjadi percontohan ideal bagi penataan situs-situs cagar budaya lain di Nusa Tenggara Timur.

Dukungan penuh dari Kementerian Dalam Negeri memberikan jaminan bahwa birokrasi di tingkat daerah akan bergerak cepat menyelesaikan regulasi pendukung.

Revitalisasi ini menjadi pembuktian bahwa identitas kultural lokal dapat hidup berdampingan dengan dinamika perkembangan zaman modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *