Menakar Makna Obor Perdamaian: Simbol Toleransi Lintas Agama dari Tapal Batas Atambua

BERITA, DAERAH, RELIGI163 Dilihat

Obor PerdamaianATAMBUA, GRANDISMA.COM – Kabupaten Belu bersiap menjadi episentrum pesan damai nusantara melalui penyalaan Obor Perdamaian Festival Paskah 2026.

Kegiatan ini dirancang untuk menunjukkan wajah Indonesia yang inklusif dari titik paling timur garis perbatasan darat.

​Bupati Belu, Willybrodus Lay, menyatakan komitmennya untuk mengawal kesuksesan acara tersebut.

Menurutnya, momentum yang berdekatan dengan suasana Idul Fitri menjadikan pesan perdamaian kali ini terasa lebih mendalam dan autentik.

​”Kegiatan ini membawa pesan kebersamaan. Ini adalah bukti bahwa dari perbatasan, kita bisa mengekspor nilai-nilai toleransi ke seluruh Indonesia,” kata Willy Lay di sela pertemuan dengan jajaran Klasis GMIT Belu.

​Pendeta Para Mengi Uly menyebut pemilihan Belu sebagai titik awal sangatlah strategis secara geopolitik dan spiritual.

Belu dianggap sebagai representasi keberagaman yang stabil dan menjadi contoh bagi wilayah lain di NTT.

​Sebelum mencapai Pulau Rote, obor ini akan melalui prosesi sakral yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Rencananya, obor tidak hanya dibawa oleh satu kelompok, melainkan dikawal secara kolektif sebagai bentuk kepemilikan bersama atas perdamaian.

​Selain agenda 28 April, pertemuan tersebut juga mematangkan rencana Pawai Paskah pada 10 April.

Menariknya, acara ini melibatkan partisipasi aktif dari 10 gereja lintas denominasi, termasuk GMIT dan GBI.

​Tidak hanya sektor Protestan, empat kelompok Orang Muda Katolik (OMK) dari Paroki Katedral, Tukuneno, Fatubenao, dan Umanen dipastikan ikut turun ke jalan.

Hal ini mempertegas sifat ekumenis dari festival tersebut.

​Titik kumpul pawai akan dipusatkan di Mal Pelayanan Publik (MPP) Atambua.

Lokasi ini sengaja dipilih untuk menggambarkan sinergi antara napas spiritual keagamaan dengan wajah pelayanan publik pemerintah.

​Willy Lay menginstruksikan perangkat daerah terkait untuk memastikan logistik dan keamanan rute berjalan tanpa hambatan.

Ia menjamin bahwa seluruh peserta dari berbagai latar belakang akan mendapatkan ruang ekspresi yang aman.

​Dukungan nyata ini dianggap sebagai oase bagi para penggerak kegiatan keagamaan di Belu.

Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat jati diri Belu sebagai kota yang ramah dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *