Letda Arm Bintoro: Ksatria Perbatasan yang Menghidupkan Filosofi “Bisa Rumangsa, Ojo Rumangsa Bisa” di Perbatasan RI-RDTL

BERITA, PERTAHANAN18 Dilihat

Letda Arm Bintoro: Ksatria Perbatasan yang Menghidupkan Filosofi "Bisa Rumangsa, Ojo Rumangsa Bisa" di Perbatasan RI-RDTLDari barisan puncak bukit Nanaet, tempat di mana Pos Laktutus itu berdiri dengan gagah, angin perbatasan bertiup membawa cerita tentang seorang perwira muda.

Di tanah yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) ini, ia tidak sekadar memegang komando militer.

Letda Arm Ananda Noor Bintoro memilih jalan sunyi para pengabdi, yakni meresapi denyut kehidupan masyarakat paling pinggir negeri.

Menelusuri tapal batas bukan perkara mudah bagi mereka yang hanya mengandalkan pangkat di pundak.

Namun, bagi Bintoro, teritorial negara diurus bukan dengan jarak yang kaku, melainkan kehangatan yang menyatu.

Ia menanggalkan sekat-sekat institusi demi melebur bersama debu jalanan dan peluh warga desa.

Dari ketinggian barisan bukit Laktutus hingga merayap turun ke lembah datar Leontolu, langkah kakinya tak pernah lelah menyapa.

Di sana, di antara petak-petak kebun dan rumah panggung sederhana, ia hadir bukan sebagai penguasa wilayah.

 

Letda Arm Bintoro: Ksatria Perbatasan yang Menghidupkan Filosofi "Bisa Rumangsa, Ojo Rumangsa Bisa" di Perbatasan RI-RDTL
Personil TNI Pos Laktutus Bersama Warga          Panen Tomat

Kehadirannya menjelma oase yang meredakan dahaga kerinduan warga akan perhatian negara.

Ia bergaul tanpa jarak, duduk bersila di atas tanah bersama para tetua adat yang dihormati.

Dari bibir orang-orang tua Laktutus, ia mendengar kisah masa lalu, merajut kearifan lokal, dan belajar memahami cara pandang hidup masyarakat Timor.

Tiada kesan canggung, sebab ia datang dengan niat tulus untuk menghormati tatanan yang telah lama hidup.

Bukan hanya kepada kaum tua, ia merangkul para pemuda dengan semangat sebaya yang penuh energi.

Lapangan kampung dan teras pos pengamanan sering kali menjadi saksi bisu diskursus ringan penuh gelak tawa.

Di sanalah ia menularkan optimisme, membakar semangat anak-anak muda untuk mencintai tanah air tanpa reserve.

Kepada anak-anak kecil yang berlarian dengan kaki telanjang, ia adalah seorang kakak sekaligus guru pelindung.

Senyum merekah di wajah mereka setiap kali sang perwira menyapa atau membagikan cerita motivasi di bawah pohon rindang.

Ia menyadarkan generasi tunas bangsa itu bahwa negara senantiasa memeluk mereka dengan penuh kasih.

Bahkan, ketika musim panen tiba dan bulir-bulir padi menguning, ia tak tinggal diam di balik meja pos.

Letda Arm Bintoro: Ksatria Perbatasan yang Menghidupkan Filosofi "Bisa Rumangsa, Ojo Rumangsa Bisa" di Perbatasan RI-RDTL
Personil TNI Pos Laktutus Bersama Warga Panen Padi

Bintoro turun langsung ke lumpur sawah, memegang ani-ani atau sabit, berdampingan bersama para petani lokal.

Keringat yang bercucuran di tubuhnya menyatu dengan peluh rakyat, menandakan bahwa kerja keras adalah bahasa universal persaudaraan.

Di hadapan bilah-bilah padi yang direnggut dari jerih payah bumi perbatasan, ia menemukan hakikat pengabdian yang sesungguhnya.

Baginya, pertahanan negara terkuat bukanlah pagar kawat berduri atau laras senjata yang mengkilap.

Pertahanan sejati bersemi dari perut rakyat yang kenyang dan rasa aman yang tumbuh dari ketulusan hati.

Pendekatan kultural ini melahirkan sebuah laku batin yang mendalam selaras dengan filosofi Jawa, namun hidup di bumi Flobamora.

“Bisa Rumangsa, Ojo Rumangsa Bisa”, mampu meresapi dan merasakan, bukan merasa diri paling bisa atau paling hebat.

Prinsip inilah yang menuntun setiap langkah Bintoro menembus benteng pertahanan psikologis masyarakat.

Ia tahu persis kapan harus berbicara dan kapan cukup menjadi pendengar setia bagi keluh kesah warga.

Tiada kalimat menggurui, yang ada hanyalah telinga yang terbuka lebar dan hati yang sabar menampung persoalan.

Di mata warga, perwira ini telah menjelma menjadi bagian dari darah daging tanah di perbatasan itu sendiri.

Transformasi relasi sosial ini turut merambah ke dalam tubuh satuan tugas yang dipimpinnya setiap hari.

Sesama personil TNI di Pos Laktutus tidak ia perlakukan sekadar sebagai anak buah dalam hierarki komando militer.

Letda Arm Bintoro: Ksatria Perbatasan yang Menghidupkan Filosofi "Bisa Rumangsa, Ojo Rumangsa Bisa" di Perbatasan RI-RDTL
Letda Arm Ananda Noor Bintoro bersama Anggota Berpose di Bukit Laktutus

Ia merajut ikatan batin yang erat, menjadikan rekan sesepelatihan dan sepasukan sebagai saudara kandung di tanah rantau.

Bagi Bintoro, seorang prajurit di sebelah kirinya adalah bagian dari diri pribadinya yang utuh.

Jatuh bangun rekan sejawat adalah bebannya juga, dan senyum kemenangan mereka adalah kebahagiaannya pula.

Solidaritas tanpa retak ini terpelihara rapi di dalam pos, menjadi benteng moral yang mengokohkan ketahanan regu.

Semangat kebersamaan itu diarahkan untuk satu tujuan luhur yakni saling menopang dan menguatkan dalam setiap tugas.

Ia memastikan bahwa tidak ada prajurit yang merasa sendirian atau terasing di garis depan penugasan yang sunyi.

Semua bahu-membahu menanggung beban teritorial, menjaga kedaulatan sambil merawat kemanusiaan.

Nilai kemerdekaan yang dirayakan bangsa ini harus pula dirasakan secara nyata oleh setiap sudut perbatasan.

Itulah doktrin sunyi yang senantiasa ia bisikkan kepada diri sendiri dan para anggotanya di tengah keterbatasan fasilitas.

Kemerdekaan bukan sebatas teks proklamasi, melainkan kehadiran negara yang memeluk mereka yang terpencil.

Ketika malam kelam turun menyelimuti pos dan sunyi mulai mencengkeram tapal batas, evaluasi batin selalu ia lakukan.

Ia merenungkan setiap jengkal tanah yang telah disambangi dan setiap senyum warga yang sempat ia ukir hari itu.

Di dalam keheningan malam perbatasan, idealismenya sebagai prajurit kian matang ditempa realitas.

Masyarakat perbatasan kini melihat TNI bukan lagi sebagai sosok asing yang ditakuti karena seragam lorengnya.

Mereka melihat Bintoro dan pasukannya sebagai penjaga rumah yang sabar, pelindung yang ramah, dan saudara yang dermawan.

Letda Arm Ananda Noor Bintoro berpose bersama para Paskibraka dan Pejabat Kecamatan Nanetdubesi

Ikatan batin lintas kultural ini menjadi warisan paling berharga selama masa penugasan berlangsung.

Letda Arm Bintoro telah membuktikan bahwa kepemimpinan militer modern menuntut kecerdasan emosional yang tinggi di samping taktik.

Dengan membumikan filosofi “Bisa Rumangsa”, ia berhasil memenangi hati rakyat tanpa harus meletuskan satu peluru pun.

Namanya kini dan akan terus dikenang di Belu, di antara angin bukit Nanaet hingga ke lembah subur Leontolu di perbatasan RI-RDTL.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *