ATAMBUA, GRANDISMA.COM – Pemerintah Kabupaten Belu secara resmi menggelar pemaparan Laporan Akhir Penyusunan Masterplan Pengembangan Kawasan Strategis Atambua di Gedung Betelalenok, Atambua, Jumat (24/7/2026).
Langkah ini menjadi pijakan strategis perencanaan jangka panjang dalam menata ibu kota Kabupaten Belu sebagai pusat kawasan perbatasan negara.
​Penyusunan dokumen perencanaan kawasan perbatasan ini melibatkan tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin oleh Dr. Ir. Arif Kusumawanto, M.T., I.A.I., I.P.U.
​Dalam sambutannya, Bupati Belu Willybrodus Lay, S.H., menegaskan pentingnya menata Kota Atambua agar memiliki standar kualitas yang tinggi.
Menurutnya, Atambua memiliki posisi geopolitik yang unik karena berbatasan langsung dengan ibu kota negara tetangga, Dili, Timor Leste.
​”Ini adalah wajah Indonesia yang paling depan. Banyak daerah di Indonesia yang berbatasan dengan negara lain, namun hanya Atambua yang berbatasan langsung dengan ibu kota negara lain, yaitu Dili. Maka status kita harus benar-benar lebih baik,” ujar Willybrodus Lay.
​Salah satu poin krusial dalam masterplan tersebut adalah usulan perpanjangan landasan pacu (runway) Bandara A.A. Bere Tallo dari 1.500 meter menjadi 2.500 meter demi mengembalikan fungsi penerbangan internasional.
Bupati mengungkapkan, Atambua memiliki rekam jejak sejarah sebagai titik persinggahan rute penerbangan internasional London–Darwin sejak tahun 1919.
​Guna mendukung percepatan konektivitas wilayah tersebut, Bupati Belu dijadwalkan menghadiri rapat koordinasi bersama lima kepala daerah lain di Kementerian Perhubungan pada Senin (27/7/2026).
​”Surat usulan sudah kami ajukan sejak tahun lalu. Nasib pengembangan bandara dan pelabuhan kita akan ditentukan di sana,” pungkasnya.
​Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Drs. Nikolaus Umbu K. Birri, M.M., Asisten Perekonomian dan Pembangunan Rine Bere Baria, S.T., jajaran Pimpinan Perangkat Daerah, serta para tokoh adat dan tokoh masyarakat Kabupaten Belu.

