Kisah Masa Kecil di Balik Buku ‘Hillbilly Elegy’, JD Vance Buka-bukaan Soal Trauma dan Figur Ayah yang Kerap Berganti

SUDUT PANDANG, TOKOH22 Dilihat

Kisah Masa Kecil di Balik Buku 'Hillbilly Elegy', JD Vance Buka-bukaan Soal Trauma dan Figur Ayah yang Kerap BergantiWASHINGTON, GRANDISMA.COM – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, membagikan kisah personal yang mendalam mengenai masa kecilnya yang penuh dengan ketidakstabilan keluarga di wilayah pedesaan Amerika.

Kehidupan masa lalu yang serba kekurangan tersebut diakui membentuk karakter dan pandangan hidupnya hingga berhasil menduduki kursi pemerintahan sekuler tertinggi di negaranya saat ini.

​Vance mengungkapkan bahwa salah satu trauma terbesar yang ia alami selama masa kanak-kanak adalah hilangnya figur ayah secara konsisten akibat perceraian dan perpisahan.

Ketidakstabilan hubungan di lingkungan domestik tersebut membuat dirinya tumbuh dengan kecemasan yang tinggi serta kesulitan untuk memercayai orang lain secara penuh.

​Dalam pengakuannya, ia diadopsi oleh seorang pria bernama Robert Hamill saat berusia sekitar lima tahun, yang kemudian menghilang dari kehidupannya setelah bercerai dengan sang ibu pada saat Vance menginjak usia 12 tahun.

Pergantian figur pria yang konstan di rumahnya diakui sebagai salah satu memori yang paling ia benci dan menyakitkan sepanjang masa kecil.

​Penegasan tersebut disampaikan oleh JD Vance pada saat berbicara di podcast The Diary of a CEO bersama host Steven Bartlett yang diunggah pada 18 Juni 2026.

Dalam tayangan tersebut, Vance secara emosional membaca kembali salah satu kutipan dalam bukunya yang menggambarkan betapa ia membenci gangguan psikologis akibat hilangnya pacar-pacar ibunya secara tiba-tiba.

​Selain masalah figur ayah, sang ibu juga diketahui berada dalam cengkeraman kecanduan obat-obatan terlarang yang parah selama bertahun-tahun.

Kondisi tersebut memaksa Vance dan kakaknya, Lindsay, untuk mencari perlindungan emosional kepada kakek dan nenek mereka yang hidup dalam kondisi ekonomi prasejahtera.

​Ia mengisahkan bahwa sang nenek, yang menikah pada usia 13 tahun setelah kehamilan yang tidak direncanakan di wilayah Kentucky Timur, menjadi sosok penyelamat utama.

Neneknya yang tangguh bertindak sebagai jangkar yang memastikan Vance tetap berada di jalur yang benar meskipun lingkungan sekitarnya sangat kacau.

​Meskipun saat ini telah hidup mapan dan bahagia bersama istrinya, Usha, serta anak-anak mereka, Vance mengakui sisi gelap masa lalunya masih menyisakan trauma emosional.

Ia sering kali mengkhawatirkan hal-hal buruk yang berada di luar kendalinya, seperti ketakutan akan kehilangan keluarga besarnya secara mendadak.

​Namun, ia bersyukur karena mampu memutus siklus kemiskinan dan kekacauan keluarga yang dialami generasi sebelumnya melalui ketegasan didikan sang nenek.

Pengalaman hidup tersebut kini ia jadikan sebagai refleksi penting dalam mengemban tugas-tugas publik sebagai wakil presiden.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *