GRANDISMA.COM – Presiden Prabowo Subianto baru saja menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab disapa Gus Dur.
Bukan sekadar penghormatan, momen ini adalah panggilan untuk mengingat kembali kearifan, keberanian, dan terutama, selera humor Gus Dur yang khas.
Gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur adalah juga pengakuan atas kemampuan menghibur dan mencerdaskan bangsa.
Mari kita rayakan gelar ini dengan empat kisah lucu yang akan mengingatkan kita pada sosok yang tak pernah berhenti membuat kita tersenyum.
Gus Dur dan Tukang Becak yang Jujur
Di suatu siang yang terik, Gus Dur sedang berjalan-jalan di sekitar Istana Negara. Tiba-tiba, ia melihat seorang tukang becak yang sedang kebingungan mencari penumpangnya yang lupa membayar. Gus Dur, dengan spontanitasnya, menghampiri tukang becak tersebut.
“Kenapa Bapak kelihatan bingung begitu?” tanya Gus Dur.
“Ini, Gus, ada penumpang tadi lupa bayar. Padahal, ini rezeki saya buat makan,” jawab tukang becak dengan wajah lesu.
Gus Dur kemudian merogoh sakunya dan memberikan sejumlah uang kepada tukang becak tersebut.
“Ini, Pak, anggap saja pengganti rezeki yang hilang tadi. Tapi, jangan lupa, tetaplah jujur dan jangan pernah menyerah,” pesan Gus Dur.
Tukang becak tersebut sangat terharu dan berterima kasih kepada Gus Dur. Namun, tiba-tiba, ia bertanya kepada Gus Dur. “Gus, maaf lancang. Tapi, Gus Dur ini presiden ya?” tanya tukang becak tersebut dengan polos.
Gus Dur tersenyum lebar dan menjawab, “Presiden apanya? Wong kalau naik becak juga masih nawar kok.”
Sontak, tukang becak tersebut tertawa terbahak-bahak dan menyadari bahwa orang yang dihadapannya adalah presiden yang sangat merakyat.
Kisah ini menggambarkan bagaimana Gus Dur selalu berusaha untuk dekat dengan rakyat kecil dan tidak pernah merasa lebih tinggi dari mereka.
Gus Dur dan Wartawan yang Kritis
Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat terbuka terhadap kritik. Ia tidak pernah alergi terhadap wartawan, meskipun seringkali diberitakan secara negatif.
Suatu ketika, Gus Dur sedang mengadakan konferensi pers. Seorang wartawan yang dikenal kritis dan sering menyerang Gus Dur dengan pertanyaan-pertanyaan tajam, mengangkat tangan.
“Gus, saya mau tanya, kenapa kebijakan pemerintah ini kok rasanya tidak pro rakyat kecil?” tanya wartawan tersebut dengan nada sinis.
Gus Dur tersenyum dan menjawab, “Begini Mas, saya tahu Mas ini memang hobinya mengkritik pemerintah.
Tapi, coba deh sekali-kali Mas lihat dari sudut pandang yang berbeda. Kebijakan ini memang tidak sempurna, tapi setidaknya kami sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat kecil.”
Kemudian, Gus Dur mendekati wartawan tersebut dan berbisik, “Mas, kalau Mas terus-terusan mengkritik, nanti Mas tidak dapat amplop dari saya lho.”
Sontak, seluruh wartawan yang hadir tertawa terbahak-bahak. Gus Dur berhasil mencairkan suasana yang tegang dan menyampaikan pesan bahwa kritik itu penting, tetapi juga harus dilakukan dengan cara yang konstruktif.
Gus Dur dan Gus Mus yang Saling Bercanda
Gus Dur dan Gus Mus (Mustofa Bisri) adalah dua sahabat karib yang saling menghormati dan mengagumi.
Keduanya seringkali bercanda dan saling meledek, tetapi selalu dengan nada yang penuh kasih sayang. Suatu ketika, Gus Dur sedang berkunjung ke kediaman Gus Mus.
“Gus, saya dengar Gus Mus sekarang sudah jadi kiai yang terkenal ya? Banyak santrinya, banyak pengikutnya,” kata Gus Dur.
Gus Mus tersenyum dan menjawab, “Ah, Gus Dur ini bisa saja. Dulu waktu masih sama-sama belajar di pesantren, Gus Dur yang paling pintar. Saya mah cuma ikut-ikutan saja.”
Kemudian, Gus Dur mendekati Gus Mus dan berbisik, “Gus, tapi ingat ya, yang paling ganteng tetap saya.”
Sontak, keduanya tertawa terbahak-bahak. Kisah ini menggambarkan bagaimana Gus Dur dan Gus Mus mampu menjaga persahabatan mereka meskipun memiliki perbedaan pandangan dan latar belakang.
Gus Dur dan Sandal Jepitnya
Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dan tidak suka berlebihan. Ia seringkali tampil dengan pakaian yang sederhana dan sandal jepit kesayangannya. Suatu ketika, Gus Dur sedang menghadiri sebuah acara resmi yang mengharuskan para tamu undangan untuk mengenakan pakaian formal.
Namun, Gus Dur tetap tampil dengan pakaian sederhananya dan sandal jepit kesayangannya. Banyak orang yang mencibir dan menganggap Gus Dur tidak sopan. Namun, Gus Dur tidak peduli.
“Kenapa saya harus berpakaian formal kalau dengan sandal jepit saja saya sudah merasa nyaman? Yang penting itu bukan pakaiannya, tapi apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita,” kata Gus Dur.
Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada penampilan luar dan selalu menjadi diri sendiri. Gus Dur menunjukkan bahwa kesederhanaan dan ketulusan jauh lebih penting daripada kemewahan dan kepalsuan.
Empat kisah ini hanyalah secuil dari lautan humor dan kearifan Gus Dur.
Dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional, mari kita jadikan kisah-kisahnya sebagai inspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih baik, yang lebih adil, makmur, dan sejahtera, dengan senyuman dan tawa yang selalu menghiasi bibir kita.
Karena Gus Dur, sang Pahlawan Nasional, telah mengajarkan kita bahwa humor adalah kekuatan, dan tawa adalah obat bagi segala luka.




