ATAMBUA, GRANDISMA.COM- Kehadiran Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemenksra) Cristina Aryani di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Senin (8/12/2025), tidak lepas dari peran sentral Romo (RM) Leo Mali.
Gembala umat yang dicintai masyarakat Belu ini menjadi jembatan penting agar pejabat negara tingkat menteri bisa menjangkau daerah yang relatif jauh untuk menyelenggarakan sosialisasi migrasi aman.
Acara yang diadakan di Kapela St. Markus Ainiba tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Belu Willybrodus Lay, S.H., staf ahli bupati, pimpinan Otoritas Daerah (OPD), kepala desa, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, Orang Muda Katolik (OMK), dan ratusan warga lokal yang antusias mengikuti.
Saat membuka acara, Bupati Willy Lay segera menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada RM. Leo Mali.
Menurutnya, keberadaan Wamen Cristina di tengah masyarakat Belu adalah hasil dari upaya Romo yang selalu peduli dan ingin menyampaikan persoalan rakyat ke tingkat pusat.
“Sangat luar biasa, Romo Leo Mali yang mampu membawa Ibu Wakil Menteri hingga ke Desa Fatuketi – daerah yang tidak mudah dijangkau – hanya untuk melihat langsung kondisi dan persoalan yang kita hadapi,” ungkap Willy Lay
Sosialisasi yang bertema “Peluang Kerja Luar Negeri dan Migrasi Aman” dirancang untuk memberikan informasi jelas dan resmi kepada warga Belu yang ingin bekerja di luar negeri tanpa takut ditipu atau dieksploitasi.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga memaparkan data penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Belu tahun 2025. Berdasarkan catatan Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan, hanya delapan warga yang bekerja secara legal di luar negeri: empat di Singapura dan dua di Hong Kong, sementara dua orang lainnya bekerja di negara tujuan yang tidak disebutkan.
Selain itu, data penempatan tenaga kerja dalam negeri juga menunjukkan angka yang cukup signifikan: 12 orang di Banten, 120 di Jambi, 114 di Medan, 15 di Jakarta, dan dua di Kapuas.
Bupati menjelaskan bahwa sebagian besar warga yang bekerja di Jambi dan Medan sebenarnya ingin menyeberang ke Malaysia namun tidak dapat melanjutkan perjalanan.
“Banyak yang berniat ke Malaysia, tapi ketika sampai di daerah perbatasan tidak bisa melanjutkan, sehingga terpaksa menetap dan mencari pekerjaan di situ. Bahkan banyak lagi yang belum tercatat secara resmi,” jelasnya.
Willy Lay juga menyebutkan tantangan geografis dan cuaca sebagai alasan banyak warga Belu mencari pekerjaan di luar Nusa Tenggara Timur (NTT).
Curah hujan yang kurang membuat sektor pertanian – yang menjadi mata pencaharian utama – sulit berkembang.
Merespons hal itu, Wamen Cristina Aryani menyatakan bahwa Kemenksra sedang membuka pasar kerja baru di negara-negara yang mengalami penuaan penduduk, seperti Jerman, Jepang, dan Korea, yang membutuhkan banyak tenaga kerja di sektor kesehatan dan perawatan lansia.
Ia juga mendorong warga Belu untuk meningkatkan kompetensi, kemampuan bahasa asing, dan memiliki sertifikasi keterampilan, serta mengakses informasi resmi melalui laman Badan Penempatan dan Perlindungan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BPP3MI) NTT.
Di akhir acara, Bupati Willy Lay menutup dengan mengajak semua pihak untuk bekerja sama multisektor.
Ia berharap dengan kehadiran Wamen Cristina dan peran RM. Leo Mali, peluang kerja luar negeri bagi warga Belu akan semakin luas dan aman di masa depan.

