TEHERAN, GRANDISMA.COM – Selat Hormuz kembali menjadi episentrum ketegangan global setelah Iran secara efektif menunjukkan kendalinya atas jalur distribusi minyak dunia.
Kendali ini tidak hanya berdampak pada harga bahan bakar, tetapi juga menggeser peta kekuatan politik di mana Teheran kini muncul sebagai “hegemon energi” baru.
Dilansir dari analisis Robert Pape dalam video terbaru yang diunggah pada 14 April 2026, Iran kini menerapkan strategi blokade militer selektif.
Dengan kemampuan drone presisinya, Iran mampu menentukan kapal mana yang boleh melintas, memberikan mereka kekuatan politik yang sangat besar terhadap negara-negara konsumen minyak di Asia.
”Kontrol atas Selat Hormuz adalah pengaruh yang luar biasa,” kata Pape, Senin (13/04).
Ia menjelaskan bahwa 80 hingga 90 persen minyak yang melewati selat tersebut menuju ke Asia, termasuk ke negara-negara seperti India dan Jepang, yang kini mulai menjauhkan diri dari garis politik Amerika Serikat demi mengamankan pasokan energi mereka.
Kekuatan ini memaksa negara-negara besar untuk “berlutut” pada kepentingan Teheran. India, misalnya, memilih untuk bersikap netral ketimbang mendukung sanksi AS, karena kehilangan akses fisik ke pasokan minyak jauh lebih berbahaya bagi ekonomi mereka daripada sekadar kenaikan harga di pasar global.
Selain itu, Iran dilaporkan sedang mengusulkan sistem penarikan retribusi atau tol bagi setiap kapal yang melewati Selat Hormuz.
Pendapatan dari tol ini diperkirakan mencapai miliaran dolar per tahun, yang akan digunakan untuk membiayai rekonstruksi dan memperkuat militer mereka di tengah tekanan sanksi Barat.
Kerja sama strategis antara Iran dan Rusia semakin memperparah dilema bagi Barat. Gabungan kontrol minyak antara Iran (20%) dan Rusia (11%) berarti hampir sepertiga pasokan minyak dunia berada di bawah kendali aliansi yang berseberangan dengan AS, menciptakan ancaman inflasi permanen bagi ekonomi global.
Pape memperingatkan bahwa jika AS tidak mampu mematahkan kendali Iran di selat ini, maka Iran secara otomatis akan tervalidasi sebagai pusat kekuatan dunia keempat setelah AS, China, dan Rusia.
Hal ini akan mengubah tatanan internasional yang selama ini bersifat unipolar atau bipolar menjadi multipolar yang sangat kompleks.
Di sisi lain, sekutu tradisional AS di kawasan Teluk seperti Arab Saudi dan UEA mulai merasa tidak aman.
Ketidakmampuan Washington untuk menjamin keamanan navigasi di Selat Hormuz membuat negara-negara ini mulai mencari alternatif keamanan, termasuk beralih ke Pakistan atau menjajaki dialog langsung dengan Teheran.
Dampak ekonomi dari kendali energi ini mulai terasa di tingkat konsumen di seluruh dunia.
Kenaikan harga minyak di pompa bensin adalah efek langsung dari ketidakpastian di Hormuz, yang jika terus berlanjut, akan memicu resesi ekonomi besar bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Kini, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan instrumen perang politik paling efektif milik Iran.
Keberhasilan mereka mengelola “senjata energi” ini membuktikan bahwa di era modern, kontrol atas komoditas vital jauh lebih bernilai daripada sekadar jumlah hulu ledak nuklir dalam memenangkan pengaruh geopolitik.
