GRANDISMA.COM – Dunia hari ini tengah disuguhkan pada narasi-narasi kelam yang memilukan dari belahan bumi Timur Tengah.
Dinamika konflik yang kian membara di sana seringkali menyeret agama ke dalam pusaran sentimen radikal yang destruktif, di mana identitas keyakinan justru dijadikan instrumen untuk memicu perpecahan dan kekerasan yang tak berkesudahan.
Di tengah kabut radikalisme global yang mengancam kohesi sosial tersebut, sebuah anomali positif justru muncul dari “Beranda NKRI”.
Dari sebuah kabupaten di tapal batas, kita melihat sebuah oase kesejukan yang dihadirkan oleh Pemerintah Kabupaten Belu melalui agenda silaturahmi dan buka puasa bersama umat Muslim di Gedung Wanita Betelalenok baru-baru ini.
Langkah yang diambil oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay, beserta jajarannya bukanlah sekadar agenda seremonial pengisi kalender kerja birokrasi.
Lebih dari itu, ini adalah sebuah “Diplomasi Nurani” yang mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa di tengah keragaman, persaudaraan adalah satu-satunya jalan untuk tetap berdiri tegak sebagai sebuah bangsa.
Sikap Pemda Belu yang secara terbuka merangkul umat Muslim termasuk memberikan izin penggunaan Pelataran Mal Pelayanan Publik (MPP) untuk Sholat Idul Fitri merupakan bentuk nyata dari kampanye nilai toleransi yang substansial.
Ini adalah jawaban telak atas kekhawatiran publik terhadap menguatnya politik identitas yang seringkali meminggirkan kelompok minoritas di berbagai belahan dunia.
Secara filosofis, apa yang ditunjukkan oleh Bupati Willy Lay adalah pengejawantahan dari konsep humanitas yang mendalam.
Pemimpin daerah ini memahami bahwa infrastruktur fisik seperti gedung dan jalan hanyalah “tubuh” dari sebuah daerah, sedangkan toleransi dan kerukunan antaruat beragama adalah “jiwa” yang menghidupkannya.
Kampanye toleransi dari perbatasan ini memiliki dasar yuridis yang sangat kokoh dalam bingkai hukum Indonesia.
Konstitusi kita, UUD 1945 Pasal 29 ayat (2), secara eksplisit menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Langkah Pemda Belu ini sejatinya adalah pelaksanaan amanat konstitusi tersebut secara murni dan konsekuen.
Ketika pemerintah daerah hadir memberikan ruang bagi umat Muslim untuk beribadah dengan tenang dan nyaman, di situlah negara sedang menjalankan fungsinya sebagai pelindung bagi segenap bangsa.
Tidak hanya itu, toleransi merupakan napas utama dari Dasar Negara kita, Pancasila. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan erat dengan Persatuan Indonesia.
Pancasila menghendaki setiap warga negara untuk beragama secara berkeadaban, yakni beragama dengan saling menghormati satu sama lain.
Kepemimpinan Willy Lay dan Vicente Hornai seolah sedang mengingatkan kita kembali pada semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Di bawah langit Atambua, perbedaan keyakinan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan warna yang memperindah tenun kebangsaan kita di wilayah perbatasan RI-RDTL.
Apresiasi tinggi patut diberikan ketika Pemda Belu tidak hanya memberikan izin Sholat Id di fasilitas publik, tetapi juga merestui pawai malam takbiran.
Ini adalah dukungan terhadap syiar agama yang dilakukan secara proporsional dan penuh rasa kekeluargaan, yang justru mempererat kohesi sosial di tingkat akar rumput.
Kita harus jujur mengakui bahwa budaya instantisme dan pengaruh teknologi informasi seringkali membawa ambiguitas nilai yang bisa menggerus karakter kaum muda.
Namun, melalui keteladanan pemimpin daerah yang mengedepankan dialog, generasi muda di Belu diajarkan tentang pentingnya integritas karakter dan penghargaan terhadap sesama.
Pesan toleransi dari Belu ini juga menjadi tamparan bagi mereka yang masih mengedepankan pandangan eksklusif dan radikal.
Jika di wilayah perbatasan yang penuh dengan dinamika sosial saja kedamaian bisa dirajut dengan indah, maka tidak ada alasan bagi wilayah lain di Indonesia untuk tidak melakukan hal yang sama.
Saya melihat bahwa kebijakan Bupati Willy Lay adalah sebuah strategi kebudayaan yang cerdas. Beliau membangun “benteng pertahanan” bukan dengan kawat berduri atau barikade militer, melainkan dengan memperkuat mentalitas toleran warganya sebagai garda terdepan penjaga NKRI.
Momentum sepuluh hari terakhir Ramadhan ini memang membawa keberkahan, tidak hanya bagi umat Muslim, tetapi bagi seluruh masyarakat Belu.
Kesadaran bahwa kita semua adalah saudara dalam kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) adalah inti dari setiap kebijakan publik yang berkeadilan.
Apresiasi yang disampaikan oleh Ketua MUI Belu, Haji Abdullah Belajam, merupakan bukti bahwa pemimpin daerah telah berhasil memenangkan hati rakyatnya.
Sinergitas antara “Umara” dan “Ulama” di daerah ini adalah modal utama dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Sebagai seorang pendidik dan pengamat filsafat, saya menilai bahwa nilai-nilai yang ditanamkan melalui kebijakan ini akan membekas lama di memori kolektif masyarakat.
Ini adalah warisan kepemimpinan yang jauh lebih berharga daripada sekadar pembangunan materiil semata.
Kita merindukan lebih banyak pemimpin yang memiliki pandangan futuristik seperti ini pemimpin yang mampu melihat bahwa masa depan sebuah bangsa sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu mengelola keberagaman dengan kearifan lokal yang kita miliki.
Peta kekuatan sosial di Belu saat ini adalah peta persaudaraan.
Tidak ada yang merasa ditinggalkan, dan tidak ada yang merasa lebih diutamakan. Semua merayakan kemanusiaan dalam satu wadah yang sama, yakni Kabupaten Belu yang kita cintai.
Akhir kata, apa yang dilakukan oleh Pemda Belu adalah sebuah pengingat bahwa cahaya kedamaian bisa bersinar dari mana saja, bahkan dari titik terluar sekalipun.
Willy Lay telah menunjukkan bahwa kepemimpinan yang melayani adalah kepemimpinan yang mampu merangkul semua perbedaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Semoga “Cahaya Toleransi” dari beranda NKRI ini terus bersinar dan menjadi inspirasi bagi perdamaian dunia.
Mari kita jaga kerukunan ini sebagai jati diri kita, menuju hari kemenangan yang fitri bagi umat Muslim, dan hari depan yang lebih gemilang bagi seluruh rakyat Belu.
