350 Peserta Susuri Jalur Bersejarah Atapupu–Atambua, Bupati Belu Dorong Napak Tilas Jadi Agenda Unggulan Daerah

BERITA, DAERAH16 Dilihat

350 Peserta Susuri Jalur Bersejarah Atapupu–Atambua, Bupati Belu Dorong Napak Tilas Jadi Agenda Unggulan DaerahBELU, GRANDISMA.COM – Sebanyak 350 peserta mengikuti Napak Tilas untuk memperingati HUT ke-110 Kota Atambua, Jumat (16/10/2026).

Kegiatan yang dilepas Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H., dari kawasan Karantina, Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Mesak, tersebut menyusuri jalur Fatukaduak menuju Kota Atambua melalui tujuh etape.

Kegiatan ini menghadirkan perpaduan antara aktivitas fisik, pengenalan sejarah, dan upaya memperkuat identitas daerah.

Peserta diajak menelusuri jalur yang memiliki kaitan dengan perjalanan sejarah kawasan pesisir Atapupu hingga berkembangnya Atambua sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Belu.

Dalam sambutannya, Willybrodus Lay mengajak masyarakat menjadikan napak tilas sebagai sarana mengenal lebih dekat sejarah daerah.

Ia menegaskan bahwa Atapupu memiliki posisi penting dalam perkembangan Atambua, terutama karena perannya dalam aktivitas pelabuhan dan perdagangan pada masa lalu.

Menurut Bupati, kawasan Atapupu dahulu menjadi salah satu titik perdagangan, termasuk pengiriman sapi ke luar negeri.

Keterbatasan kendaraan pada masa itu membuat pengangkutan ternak dilakukan dengan menggiring sapi melalui jalur darat, yang sebagian rutenya kembali ditelusuri peserta dalam kegiatan tahun ini.

Willybrodus Lay juga menjelaskan bahwa pusat pemerintahan pada masa Hindia Belanda dipindahkan dari Atapupu ke Atambua dengan pertimbangan jangkauan pelayanan administrasi.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah pembentukan pusat pemerintahan yang kemudian berkembang menjadi Kota Atambua seperti sekarang.

Ia turut menyampaikan pengalamannya mengunjungi museum di Belanda, tempat ia menemukan catatan yang menurutnya menunjukkan Dermaga Atapupu telah tercantum dalam peta pelayaran sejak sekitar tahun 1550.

Informasi tersebut, menurutnya, menjadi alasan untuk semakin memperhatikan dan menggali sejarah kawasan pesisir Belu.

Selain memiliki nilai historis, napak tilas berpotensi dikembangkan sebagai kegiatan wisata berbasis sejarah dan budaya.

Jalur perjalanan, kisah perdagangan masa lalu, serta hubungan antara Atapupu dan Atambua dapat menjadi materi edukasi yang menarik bagi pelajar, wisatawan, dan masyarakat dari luar Kabupaten Belu.

Agar potensinya berkembang, promosi kegiatan perlu disertai dokumentasi sejarah yang baik, penataan rute, informasi di setiap etape, serta keterlibatan masyarakat setempat.

Pelaku usaha kecil, kelompok budaya, dan komunitas wisata juga dapat dilibatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi yang tumbuh di sekitar agenda tersebut.

Willybrodus Lay berharap penyelenggaraan napak tilas pada tahun-tahun berikutnya dapat diperluas dan dipromosikan dengan lebih baik.

Harapan itu membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan yang memiliki daya tarik wisata sekaligus memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap sejarah daerahnya.

Kegiatan yang dihadiri unsur TNI-Polri, pimpinan perangkat daerah, pimpinan instansi vertikal, pelaksana tugas Camat Kakuluk Mesak, kepala desa, dan peserta napak tilas itu menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas unsur dalam menghidupkan sejarah lokal.

Partisipasi berbagai pihak menjadi modal untuk menjaga kesinambungan kegiatan dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat.

Peringatan 110 tahun Kota Atambua diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan.

Dengan pengelolaan yang konsisten, napak tilas dapat menjadi sarana pendidikan sejarah, promosi wisata, dan penggerak partisipasi masyarakat dalam pembangunan Kabupaten Belu, sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah Atapupu kepada generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *