KUPANG, GRANDISMA.COM – Ketersediaan pasokan barang seringkali menjadi batu sandungan utama dalam bisnis ritel berbasis produk lokal.
Menyadari tantangan tersebut, pemerintahan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma menerapkan strategi khusus yang diberi nama “Tiga Kaki” untuk menjaga napas NTT Mart.
Strategi “Tiga Kaki” ini merupakan manifestasi dari salah satu program unggulan Dasacita yang dicanangkan oleh pasangan Melki-Johni.
Visi utamanya adalah memastikan jalur distribusi produk dari tingkat produsen di desa, ladang, hingga pesisir laut dapat langsung bermuara ke pasar dengan lancar.
Kaki pertama dari strategi ini bertumpu pada program One Village One Product atau Satu Desa Satu Produk.
Melalui kebijakan ini, Pemerintah Provinsi NTT mewajibkan setiap desa dan kelurahan di seluruh penjuru provinsi untuk menghasilkan minimal satu produk unggulan yang memiliki nilai jual.
Kebijakan ini memaksa aparatur desa dan masyarakat untuk menggali potensi lokal mereka, baik berupa hasil pertanian, kriya, maupun kuliner.
Produk unggulan dari desa-desa inilah yang kemudian akan disuplai secara berkelanjutan ke etalase NTT Mart.
Kaki kedua menyasar sektor pendidikan melalui inisiatif One School One Product.
Pemerintah daerah secara masif mendorong Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk menjadi inkubator bisnis yang menghasilkan produk-produk kreatif buatan siswa.
Gubernur Melki mengungkapkan bahwa strategi ini bukan lagi sekadar wacana. “Di sekolah juga kita mulai membuat NTT Mart berbasis sekolah.
Saya juga mendapatkan kabar bahwa kampus-kampus pun sedang dan mau membuat One Campus One Product,” jelasnya pada Jumat (27/3).
Kaki ketiga dari strategi ini adalah One Community One Product, yang menitikberatkan pada pelibatan elemen sosial kemasyarakatan.
Pemerintah merangkul komunitas keagamaan, seperti gereja dan masjid, serta berbagai organisasi masyarakat untuk turut memproduksi minimal satu karya unggulan.
Pendekatan tiga pilar ini dirancang untuk menyelesaikan masalah klasik yang kerap dikeluhkan oleh pelaku UMKM dan Industri Kecil Menengah (IKM).
Sebelumnya, mereka merasa kesulitan memasarkan produk karena tidak memiliki akses ke pasar konvensional dan harus menjual secara mandiri dari pintu ke pintu.
Kini, dengan adanya NTT Mart yang didukung oleh kepastian suplai dari strategi “Tiga Kaki”, para pelaku usaha di tingkat akar rumput akhirnya bernapas lega.
Mereka tidak perlu lagi memikirkan strategi pemasaran yang rumit, melainkan cukup fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi.
Gubernur Melki memastikan bahwa skema hulu ke hilir ini akan menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang sehat.
Dengan pasar yang pasti dan jelas, masyarakat desa, pelajar, hingga komunitas dapat merasakan langsung kemandirian ekonomi dari hasil jerih payah mereka sendiri.
