Sosok John Letto di Mata Bupati Willy Lay: Putra Terbaik Belu, Sang Peletak Fondasi Pembangunan

BERITA, DAERAH, POLITIK, TOKOH28 Dilihat

Sosok John Letto di Mata Bupati Willy Lay: Putra Terbaik Belu, Sang Peletak Fondasi PembangunanATAMBUA, GRANDISMA.COM— Suasana khidmat menyelimuti pelataran Kantor Bupati Belu pada Minggu sore (05/04/2026), saat pemerintah daerah memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu putra terbaiknya.

Drs. Johanes Stefanus Letto, Bupati Belu periode 1983-1988, dilepas dalam sebuah upacara kedinasan yang dipimpin langsung oleh Bupati petahana, Willybrodus Lay.

​Bupati Willy Lay dalam orasi pemakamannya menegaskan bahwa mendiang John Letto bukan sekadar mantan pejabat, melainkan arsitek awal pembangunan di Belu.

Menurutnya, fondasi birokrasi dan infrastruktur yang dinikmati masyarakat hari ini berakar dari kebijakan visioner almarhum pada era 80-an.

​Kehilangan ini dirasakan mendalam bukan hanya oleh keluarga besar Letto, melainkan juga oleh seluruh elemen masyarakat di wilayah perbatasan RI-RDTL.

Willy Lay menyebut kepergian John Letto sebagai hilangnya salah satu referensi kepemimpinan moral di Kabupaten Belu.

​Selama masa jabatannya, John Letto dikenal sebagai pemimpin yang sangat teliti dalam merencanakan tata ruang daerah.

Ia meletakkan dasar-dasar pelayanan publik yang mengutamakan kedekatan antara pemerintah dan rakyat kecil di desa-desa terpencil.

​Willy Lay menekankan bahwa integritas yang ditunjukkan almarhum selama lima tahun memimpin adalah standar yang sulit ditandingi.

Di tengah keterbatasan sumber daya saat itu, John Letto mampu mengoptimalkan potensi daerah demi kemajuan bersama.

​”Beliau adalah kompas bagi kami yang sedang melanjutkan estafet kepemimpinan ini,” ujar Willy Lay.

Baginya, setiap keputusan besar yang diambil almarhum selalu didasarkan pada kecintaan tulus terhadap tanah kelahiran.

​Upacara kedinasan ini sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda Belu tentang pentingnya sejarah.

Tanpa jasa para perintis seperti John Letto, arah pembangunan Belu mungkin tidak akan sejelas dan sekuat posisi saat ini.

​Momen Paskah yang mengiringi pemakaman ini memberikan makna spiritual tersendiri bagi masyarakat yang mayoritas beragama Katolik.

Kematian John Letto dipandang sebagai akhir dari pengabdian duniawi yang penuh dengan nilai-nilai kebajikan Kristiani.

​Bupati mengajak semua yang hadir untuk tidak sekadar bersedih, tetapi merefleksikan nilai-nilai kerja keras almarhum. Fondasi yang telah diletakkan harus terus diperkokoh dengan inovasi dan semangat persatuan yang sama.

​Selamat jalan, Bapak John Letto. Warisan intelektual dan fisik yang ditinggalkan akan terus hidup dalam setiap detak pembangunan di Kabupaten Belu, menjadi saksi bisu dedikasi seorang putra terbaik bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *