JAKARTA, GRANDISMA.COM – Kabar duka menyelimuti dunia jurnalisme dan aktivisme hak asasi manusia (HAM) di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kornelis Kewa Ama, seorang jurnalis senior Harian Kompas yang dikenal berdedikasi tinggi, menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 11 Maret 2026, di Rumah Sakit Leona, Kupang, pada usia 61 tahun.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi mereka yang selama ini berjuang bersama menyuarakan kebenaran dan keadilan, termasuk Gabriel Goa, Tenaga Ahli Komnas HAM RI Bidang Human Trafficking dan HAM Berat.
Gabriel Goa, dalam ungkapan dukacitanya, menekankan peran vital pers sebagai pilar demokrasi dan HAM. Baginya, jurnalis seperti Kornelis adalah “suara kenabian” yang setia menyuarakan dan membela korban pelanggaran HAM melalui karya jurnalistiknya.
“Menulis dan menyuarakan Voice of the Voiceless meneguhkan perjuangan kami terus setia belarasa dengan korban pelanggaran HAM,” ujar Gabriel Goa.
Semangat yang dimaksud Gabriel Goa adalah kemampuan untuk melakukan “Annuntiare”, yakni menyuarakan kebenaran, menegakkan keadilan, menciptakan perdamaian, dan menjaga keutuhan ciptaan Tuhan.
Di sisi lain, ada pula “Dennuntiare”, sebuah aksi membongkar hingga ke akar-akarnya struktur yang jahat, korupsi, dan menindas “wong cilik” serta merampas hak-hak ekosob mereka, sembari menata kembali sistem yang adil demi kepentingan Bonum Communae atau kebaikan bersama.
Untuk setia pada prinsip-prinsip tersebut, lanjut Gabriel Goa, dibutuhkan spiritualitas perjuangan yang kuat. Spiritualitas itu ia sebut sebagai “kenosis” (pengosongan diri), “passing over” (lintas batas dari suku, agama, ras, dan antar golongan), serta “profetik” (suara kenabian). Semua itu demi “Ad Maiorem Dei Gloriam”, untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
Pesan terakhir yang ia sampaikan, “If you want PEACE, work for JUSTICE!” semakin mengukuhkan komitmennya pada perjuangan HAM.
Kornelis Kewa Ama sendiri adalah figur yang patut diteladani dalam semangat perjuangan tersebut. Berasal dari Adonara, Flores Timur, ia memulai karier jurnalistiknya dari sebuah desa kecil.
Perjalanan panjang membawanya meliput medan konflik di Timor Timur, hingga kemudian mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk meliput wilayah NTT dengan setia.
Selama puluhan tahun, Kornelis menjadi saksi mata berbagai peristiwa penting di NTT.
Mulai dari isu pembangunan, masalah sosial yang menghimpit masyarakat, hingga dinamika perbatasan yang kompleks, semua ia abadikan dalam tulisan-tulisannya.
Dedikasinya menjadikannya salah satu pilar utama dalam pemberitaan isu-isu kemanusiaan di kawasan tersebut.
Ia dikenal luas sebagai wartawan yang “setia menulis tentang orang kecil.” Tulisan-tulisannya sering kali berupa feature yang tajam dan mengharukan, menyoroti kehidupan masyarakat di pinggiran perhatian publik dan mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Melalui pena-nya, Kornelis memberikan ruang bagi kisah-kisah yang sering terlupakan, mengangkatnya ke permukaan agar dapat didengar dan dipahami.
Rekan-rekan sejawatnya mengenang pesan yang selalu ia pegang teguh dan kerap dibagikan: ”Teruslah menulis tentang orang miskin”.
Pesan ini bukan sekadar kalimat biasa, melainkan sebuah warisan berharga yang ia tinggalkan bagi generasi jurnalis setelahnya.
Pesan ini diharapkan menjadi pengingat agar kisah-kisah masyarakat kecil tidak pernah hilang dari perhatian dunia dan terus diperjuangkan.
Kepergian Kornelis Kewa Ama adalah kehilangan besar bagi dunia jurnalistik Indonesia, khususnya di NTT.
Namun, semangat dan warisan perjuangannya akan terus hidup, menginspirasi banyak pihak untuk melanjutkan komitmen dalam menyuarakan kebenaran, menegakkan keadilan, dan membela hak-hak mereka yang terpinggirkan. Semoga ia beristirahat dengan tenang di Rumah Tuhan.
Selamat jalan, Kornelis Kewa Ama, Pejuang HAM yang tak lelah bersuara. Karya-karyamu akan terus menjadi lentera bagi kami, para pewarta dan pegiat HAM, dalam meneguhkan perjuangan “Voice of the Voiceless” di tanah air.
