WASHINGTON, GRANDISMA.COM – Strategi kampanye udara yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran dinilai gagal mencapai tujuan strategis utamanya.
Robert Pape, Profesor Universitas Chicago sekaligus pakar strategi pengeboman, menyatakan bahwa alih-alih melumpuhkan, serangan tersebut justru memperkuat posisi tawar Teheran di panggung internasional.
Dalam sebuah diskusi mendalam yang dilansir dari kanal The Diary of a CEO (14/4/2026), Pape mengungkapkan bahwa pemodelan perang selama dua dekade menunjukkan hasil yang konsisten.
Meski AS mampu menghancurkan infrastruktur fisik, material nuklir dan kapabilitas teknologi drone Iran tetap tidak tersentuh di bawah tanah.
”Anda bisa menghancurkan pabriknya, tapi Anda tidak bisa menghancurkan ‘emas’ di dalamnya,” ujar Pape dalam wawancara tersebut.
Ia menekankan bahwa fasilitas pengayaan nuklir Iran seperti Fordow dan Natanz dibangun sangat dalam di perut bumi, melampaui kemampuan penetrasi bom konvensional tercanggih sekalipun.
Secara politik, serangan ini dianggap sebagai blunder karena justru memicu sentimen nasionalisme yang kuat di kalangan rakyat Iran.
Rakyat yang sebelumnya kritis terhadap rezim, kini cenderung bersatu di bawah bendera nasional demi menghadapi ancaman eksternal yang dianggap eksistensial bagi peradaban mereka.
Strategi “pemenggalan kepemimpinan” atau leadership decapitation juga dinilai tidak efektif karena struktur komando militer Iran yang sangat terdesentralisasi.
Meskipun pemimpin tingkat atas menjadi target, instruksi strategis tetap berjalan melalui protokol pra-delegasi yang telah disiapkan untuk kondisi perang.
Pape juga menyoroti kegagalan intelijen dalam menilai daya tahan Iran.
Teheran telah mengantisipasi serangan ini selama bertahun-tahun dengan menyembunyikan gudang drone dan rudal presisi mereka di jaringan terowongan rahasia yang tersebar luas, sehingga mustahil untuk dilumpuhkan sepenuhnya lewat udara.
Akibatnya, AS kini terjebak dalam apa yang disebut Pape sebagai “perangkap eskalasi.”
Serangan udara tidak menghentikan serangan drone Iran terhadap kapal-kapal di perairan internasional, yang justru membuktikan bahwa superioritas udara AS tidak lagi menjadi jaminan keamanan bagi jalur perdagangan global.
Di Gedung Putih, pengambilan keputusan yang kacau justru memperburuk situasi.
Kurangnya koordinasi antara serangan militer dan diplomasi membuat setiap progres negosiasi sering kali buyar akibat serangan fisik yang tidak sinkron dengan tujuan politik jangka panjang Amerika Serikat di Timur Tengah.
Kini, dunia melihat Iran bukan sebagai negara yang sedang runtuh, melainkan sebagai kekuatan yang mampu menahan gempuran negara adidaya.
Kegagalan ini memaksa Pentagon untuk meninjau kembali seluruh doktrin militer mereka terkait penggunaan kekuatan udara dalam menghadapi lawan yang memiliki ketahanan asimetris yang kuat.
Pape menyimpulkan bahwa tanpa perubahan strategi yang drastis, Amerika Serikat hanya akan terus menguras sumber daya tanpa hasil yang nyata.
Iran saat ini berada pada posisi terkuatnya dalam sejarah modern, sementara pengaruh AS di kawasan Teluk terus menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

