Pukau Istri Mendagri, Ritual Ukun Naran Bunaq di Kampung Adat Duarato Tampilkan Filosofi Kelestarian Alam Perbatasan

BERITA, DAERAH21 Dilihat

Pukau Istri Mendagri, Ritual Ukun Naran Bunaq di Kampung Adat Duarato Tampilkan Filosofi Kelestarian Alam PerbatasanBELU, GRANDISMA.COM –  Pesona warisan leluhur di tapal batas negara kembali menunjukkan daya tarik magisnya dalam gelaran Ritual Ukun Naran Bunaq di Kampung Adat Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Acara sakral yang berlangsung pada Rabu (24/06/2026) ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pusat, Ny. Tri Tito Karnavian.

Kehadiran istri Menteri Dalam Negeri RI tersebut menjadi bentuk apresiasi nyata dari pemerintah pusat terhadap keteguhan warga perbatasan dalam merawat tradisi lokal.

​Sejak menginjakkan kaki di pintu gerbang kampung, Ny. Tri Tito Karnavian bersama rombongan disambut secara khidmat melalui pengalungan kain Tais (selendang tenun khas) oleh Bupati Belu dan tokoh adat setempat.

Prosesi ini disusul oleh hentakan Tarian Likurai dan Gase Hawaka yang dibawakan oleh Makoan (penutur adat), sebagai simbol penerimaan tamu kehormatan ke dalam lingkaran keluarga besar Dasa Rai Lamaknen.

Ratusan anak-anak berpakaian adat membentuk formasi pagar betis di sepanjang jalan sembari menyuguhkan senyum tulus dan tarian selamat datang.

​Saat berkeliling perkampungan, Ketum TP PKK Pusat menyaksikan langsung dinamika kehidupan kultural masyarakat Bunaq yang masih bernapas dalam keseharian warga.

Kaum perempuan dan laki-laki tampak duduk bersama memintal benang tradisi (Gugul Hili Tei Lili Pan Mone) sambil melantunkan pantun jenaka untuk melepas penat.

Aktivitas berbasis kearifan lokal seperti Takasien (menganyam tanasak), Paol Gao (menumbuk jagung), serta Tais Selu (menenun) memperlihatkan bagaimana kemandirian ekonomi tradisional terawat dengan sangat baik di wilayah ini.

​Suasana sakral kian terasa ketika para tetua adat berkumpul menggelar musyawarah di pelataran rumah adat.

Suku Uma Metan Purbelis terlihat serius membahas tata cara peminangan (Mone matas reu gomo Adat pana gitin Dale), sementara Suku Sobo Wai Oelleu merumuskan arsitektur pembangunan rumah adat baru.

Kehangatan budaya tersebut semakin lengkap dengan suguhan kuliner lokal seperti Kopi Gao (kopi tumbuk) dan Paol Botu (jagung bunga) yang diolah langsung menggunakan metode tradisional oleh warga Suku Loe Bau Reu Kaluk.

​Puncak kekaguman Ny. Tri Tito Karnavian terjadi saat menyaksikan tradisi Holek, yakni sebuah ritual pemanenan madu hutan dari pohon-pohon tinggi yang diawali dengan nyanyian dan pantun khusus.

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bentuk komunikasi spiritual manusia Bunaq untuk memohon izin kepada alam semesta agar ekosistem tetap seimbang.

Seluruh rangkaian acara ritual adat kemudian ditutup secara meriah melalui Tei Lete atau tebe bersama sebagai simbol pemersatu dan doa keselamatan kolektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *