ATAMBUA, GRANDISMA.COM – Kabupaten Belu resmi melepas salah satu putra terbaiknya, Drs. Johanes Stefanus Letto, ke tempat peristirahatan terakhir dalam sebuah upacara militer dan kedinasan yang khidmat pada Minggu (05/04/2026).
Kepergian pria yang akrab disapa Jhon Letto ini bertepatan dengan suasana Paskah, menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang birokrat tulen yang telah mengabdi sejak era Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan.
Lahir di Atambua pada 16 Mei 1944, Jhon Letto merupakan anak ketiga dari 14 bersaudara pasangan Ignatius A. Letto dan Yohana Maubela.
Sejarah mencatatnya sebagai Bupati Belu ke-4 yang menjabat pada periode 1983-1988 di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dan Gubernur NTT dr. Ben Mboi.
Sosoknya bukan sekadar pejabat, melainkan saksi sejarah penting dalam integrasi wilayah kedaulatan Indonesia.
Rekam jejak karier Jhon Letto sangat fenomenal. Lulusan APDN Kupang tahun 1968 ini pernah bertugas di Irian Barat dalam rangka persiapan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969.
Tidak hanya itu, pada tahun 1976, ia kembali dipercaya menjalankan tugas negara dalam Pembentukan Pemerintahan Sementara Timor-Timur (PPSTT) di Dili, sesaat setelah wilayah tersebut bergabung menjadi provinsi ke-27 Indonesia.
Puncak pengabdiannya di tanah kelahiran terjadi saat ia dilantik menjadi Bupati Belu. Salah satu mahakarya yang tetap melegenda hingga kini adalah peluncuran program Operasi Lorosae I dan II.
Program ini merupakan gerakan revolusi pertanian besar-besaran yang berhasil mengubah wajah agraris di wilayah Kabupaten Belu, menjadikannya salah satu lumbung pangan strategis pada masanya.
Bupati Belu petahana, Willybrodus Lay, dalam pidato penghormatannya menyebut Jhon Letto sebagai “Birokrat Tulen” yang memiliki visi melampaui zamannya.
Pendidikan tinggi yang ditempuhnya di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta pada 1974 membekalinya dengan kematangan manajerial yang membuat birokrasi Belu menjadi lebih profesional dan tertata.
Sebelum menjabat sebagai Bupati, Jhon Letto juga tercatat pernah menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Kota Administratif Kupang.
Pengalaman panjang di berbagai zona konflik dan administratif menjadikannya sosok yang tenang namun sangat tegas dalam mengambil keputusan strategis bagi kesejahteraan rakyat Belu.
Kematian almarhum di usia 81 tahun pada 3 April 2026 meninggalkan duka mendalam. Upacara pemakaman yang digelar di halaman Kantor Bupati Belu dihadiri oleh jajaran Forkopimda dan tokoh-tokoh penting NTT.
Penempatan momen pemakaman di hari Minggu Paskah memberikan kesan spiritual bagi masyarakat bahwa pengabdian tulus sang pemimpin telah usai dengan kemenangan iman.
Bagi generasi muda birokrat di NTT, riwayat pendidikan Jhon Letto yang konsisten—mulai dari SR Atambua hingga IIP Jakarta—adalah cermin dari kegigihan menuntut ilmu.
Ia membuktikan bahwa putra daerah perbatasan mampu bersaing di kancah nasional dan memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas geopolitik Indonesia.
Willy Lay menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan Jhon Letto, terutama semangat persatuan dan cinta daerah, harus terus dilestarikan.
Warisan intelektual dari buku “Jejak Tapak Dari Masa ke Masa” yang mendokumentasikan kepemimpinannya akan tetap menjadi literatur wajib bagi siapa saja yang ingin membangun Belu dengan hati.
Upacara diakhiri dengan penghormatan terakhir dari seluruh aparatur sipil negara yang hadir. Selamat jalan Jhon Letto, sang arsitek Operasi Lorosae.
Dedikasimu pada NKRI, mulai dari bumi Cenderawasih hingga tanah Timor, akan selalu terukir dalam tinta emas sejarah Indonesia dan menjadi kebanggaan abadi bagi rakyat Belu.
