Pesan Terakhir untuk Seseorang yang Bukan Siapa-Siapa

Oleh: Isabela Saniva Bas

CERPEN51 Dilihat

Pesan Terakhir untuk Seseorang yang Bukan Siapa-SiapaLayar ponsel yang menyala di kegelapan kamar selalu menjadi saksi bisu atas percakapan-percakapan yang tak pernah memiliki masa depan.

Bella menatap baris demi baris ketikan yang ia susun dengan jemari yang sedikit bergetar.

Sudah hampir satu jam ia memandangi kolom obrolan itu, menghapus, menulis ulang, lalu menghapusnya lagi.

Di bagian atas layar, sebuah nama tertera tanpa status. Bukan kekasih, bukan tunangan, bahkan bukan mantan.

Seseorang yang selama tiga tahun ini menjadi muara dari segala ceritanya, namun di dalam kartu identitas sosial kehidupan, ia hanyalah “bukan siapa-siapa”.

Mereka pernah sedekat nadi. Menghabiskan larut malam untuk menertawakan hal-hal kecil, saling bertukar mimpi, dan menjadi orang pertama yang dicari saat dunia sedang tidak berpihak.

Bella tahu bagaimana kopi yang ia sukai, tahu nada suaranya saat sedang lelah, dan tahu luka masa lalu yang ia sembunyikan di balik tawa.

Namun, di antara semua kedekatan itu, ada sebuah tembok besar tak kasat mata bertuliskan: “Jangan pernah meminta lebih.”

Hubungan tanpa label adalah sebuah ilusi yang manis sekaligus mematikan.

Bella merasa memilikinya, sampai pada suatu hari ia sadar bahwa ia bisa kehilangan orang itu kapan saja tanpa ada hak untuk menahan.

Dan hari itu akhirnya datang.

Orang itu perlahan menjauh, membalas pesan dengan satu-dua kata yang dingin, sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik kesibukan baru dan orang baru yang tampaknya diberi ruang yang lebih sah.

Malam ini, Bella tahu ia harus menyudahi ziarah sepi ini. Kegagalan untuk “move on” selama berbulan-bulan telah melelahkan jiwanya.

Ia tidak bisa terus berdiri di depan pintu yang tidak pernah dibukakan untuknya.

Jemarinya kembali bergerak di atas kibor ponsel. Kali ini, ia tidak menghapusnya lagi.

Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari perjalanan ini, meski kita tidak pernah memiliki nama. Aku tidak membenci jarak yang sekarang ada, karena aku tahu setiap orang punya dermaga pilihannya masing-masing. Aku melepaskanmu, bukan karena rasa ini sudah hilang, tetapi karena aku tahu hatiku juga berhak untuk pulang dan beristirahat. Berbahagialah di jalan yang kamu pilih.”

Bella menarik napas panjang. Kalimat itu terasa jujur, terlahir dari sisa-sisa luka yang kini mulai mengering.

Namun, sesaat sebelum jemarinya menyentuh tombol kirim, ia tertegun.

Ia menatap tombol hijau itu lama sekali. Angin malam berdesir di luar jendela, membawa kesunyian yang kontemplatif. Bella tersenyum getir.

Jika orang itu adalah seseorang yang bukan siapa-siapa, untuk apa pesan ini dikirimkan?

Mengirimkannya hanya akan menegaskan bahwa ia masih terikat, masih mengharapkan balasan, dan masih mengemis perhatian di ujung cerita yang sudah usai.

Dalam diam yang paling dalam, Bella menyadari satu hal: cara terbaik untuk melepaskan hubungan tanpa status adalah dengan tidak memberi penutup yang dramatis.

Kebungkaman terkadang adalah doa terbaik untuk keikhlasan.

Bella tidak menekan tombol kirim. Alih-alih, ia memblokir seluruh teks tersebut, lalu menekan tombol “delete”.

Kolom pesan itu kembali kosong, bersih, dan lapang. Sama seperti hatinya saat ini.

Ia mematikan ponselnya, membalikkan layar menghadap meja, dan membiarkan kamar itu tenggelam dalam kegelapan yang damai.

Pesan terakhir itu tidak pernah sampai ke ponsel orang tersebut, tetapi telah tersampaikan dengan sempurna kepada jiwanya sendiri.

Bella memejamkan mata, menyambut tidur pertamanya tanpa bayang-bayang masa lalu, siap menyongsong fajar yang baru esok hari.

 

Catatan: Penulis Merupakan Pelajar Kelas X SMA Terpadu HTM Halilulik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *