Guncang Fulan Fehan, 3.900 Penari dari 4 Suku Besar Sukses Bawakan Tarian Likurai Kolosal

Guncang Fulan Fehan, 3.900 Penari dari 4 Suku Besar Sukses Bawakan Tarian Likurai KolosalBELU, GRANDISMA.COM –  Detak ritme tihar dan gemerincing loncek kaki mengguncang ketenangan padang savana Lamaknen saat 3.900 penari secara serentak membawakan tarian Likurai kolosal.

Ribuan penari tersebut merupakan representasi dari empat suku besar yang mendiami tanah Belu, yaitu Suku Tetun, Kemak, Marae, dan Bunak.

Kolaborasi masif ini menjadi atraksi paling dinantikan dalam perhelatan Festival Fulan Fehan IV, menampilkan sinkronisasi gerak lambat yang sarat akan makna filosofis keteguhan dan persaudaraan sejati.

​Tarian Likurai, yang secara historis merupakan tarian sakral untuk menyambut para pahlawan yang kembali dari medan laga, kini direkontekstualisasi menjadi simbol penyambutan perdamaian dunia.

Ribuan penari perempuan dengan lincah memainkan kendang kecil di bawah lengan mereka, sementara para penari pria memperagakan gerakan ketangkasan menggunakan pedang tradisional.

Gerakan teatrikal yang dibawakan secara masif ini menceritakan tentang persatuan komunal di tengah kepungan perbedaan bahasa ibu dan dialek lokal.

​Manajemen pengorganisasian ribuan penari dari empat rumpun suku yang berbeda ini mendapatkan apresiasi luar biasa dari para pengamat budaya dan koreografer nasional.

Proses penyelarasan gerakan membutuhkan waktu latihan berbulan-bulan di tingkat desa sebelum akhirnya disatukan di atas tanah lapang Fulan Fehan.

Keberhasilan pementasan kolosal ini membuktikan bahwa modal sosial (social capital) dan semangat gotong royong masyarakat adat di wilayah perbatasan Belu masih berada dalam kondisi yang sangat solid.

​Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto, bersama Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian yang menyaksikan langsung dari barisan syaf depan, tampak terpukau dengan konsistensi ritme yang terjaga sepanjang pementasan.

Pakaian adat tenun ikat bernuansa tenunan khas motif Belu yang dikenakan oleh ribuan penari menciptakan gelombang warna yang estetik di tengah hamparan rumput hijau savana.

Setiap jengkal gerakan menyampaikan pesan mendalam tentang penghormatan penuh terhadap warisan leluhur.

​Bagi penonton lokal maupun mancanegara, pementasan 3.900 penari ini menyajikan tontonan seni yang memiliki intensitas emosional tinggi.

Suara entakan kaki yang serempak di atas tanah savana menghasilkan efek getaran yang selaras dengan tabuhan tihar, menciptakan atmosfer magis di sekitar kaki Gunung Lakaan.

Keberagaman identitas kultural dari keempat suku besar tersebut terbukti tidak menjadi penghalang, melainkan justru menjadi elemen kekayaan yang memperkuat estetika tarian.

​Pementasan Likurai kolosal ini sekaligus menegaskan status Festival Fulan Fehan sebagai salah satu festival kebudayaan dengan jumlah keterlibatan seniman lokal terbesar di wilayah Indonesia Timur.

Rekor pementasan ini diharapkan dapat tercatat dalam dokumentasi kebudayaan nasional sebagai bentuk pelestarian warisan budaya takbenda yang sukses.

Antusiasme ribuan penari lintas generasi ini menjadi garansi nyata bahwa eksistensi nilai-nilai luhur masyarakat Belu tidak akan luntur diterjang arus modernisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed