Gubernur Melki Laka Lena di IFTK Ledalero: Keadilan Sosial Harus Nyata, Bukan Sekadar Pidato

Prof Otto Gusti Dikukuhkan Jadi Guru Besar Filsafat Politik, Gubernur NTT Singgung Ruang Kritik PublikMAUMERE, GRANDISMA.COM –  Dalam sebuah orasi yang emosional di IFTK Ledalero, Sabtu (18/4/2026), Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa keadilan sosial harus bermanifestasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ia menolak jika keadilan hanya menjadi jargon politik yang kerap diulang-ulang dalam pidato seremonial tanpa bukti konkret.

​Melki menyatakan bahwa ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan terletak pada kemegahan bangunan fisik, melainkan pada seberapa merata akses masyarakat terhadap hak-hak dasar.

Keadilan, menurutnya, harus menyentuh warga di pelosok desa yang selama ini merasa terpinggirkan dari pembangunan.

​Ia merujuk pada pemikiran Prof. Otto Gusti yang menekankan bahwa negara hadir untuk melindungi yang lemah dan memastikan kesetaraan kesempatan bagi semua warga.

Melki berkomitmen untuk meninjau kembali berbagai regulasi daerah yang dinilai masih menghambat akses keadilan bagi rakyat kecil.

​Gubernur mengakui bahwa ketimpangan ekonomi masih menjadi tantangan besar di NTT.

Oleh karena itu, kebijakan anggaran pemerintah provinsi ke depan akan lebih difokuskan pada penguatan sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak.

​Dalam forum yang dihadiri oleh ratusan akademisi dan mahasiswa tersebut, Melki mengajak kampus untuk menjadi pengawas independen bagi jalannya pemerintahan.

Kampus harus berani bersuara ketika melihat adanya ketidakadilan dalam distribusi sumber daya daerah.

​Ia menegaskan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah prasyarat mutlak untuk mewujudkan keadilan sosial.

Tanpa keterbukaan, celah bagi praktik korupsi dan nepotisme akan tetap terbuka, yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat luas.

​Melki juga menyentuh isu keadilan bagi perempuan dan kelompok marjinal di NTT. Ia ingin agar setiap kebijakan pembangunan melibatkan perspektif gender agar tidak ada kelompok masyarakat yang ditinggalkan dalam proses kemajuan daerah.

​Menurut Gubernur, pendidikan adalah alat terbaik untuk memutus rantai ketidakadilan yang bersifat struktural.

Melalui pendidikan yang berkualitas dan terjangkau, setiap anak NTT memiliki peluang yang sama untuk mengubah nasib mereka dan berkontribusi bagi bangsa.

​Ia berharap pengukuhan Prof. Otto Gusti sebagai pakar filsafat politik dapat memicu lahirnya diskusi-diskusi publik yang bermutu mengenai arah pembangunan NTT. Ruang dialog yang sehat antara rakyat dan penguasa adalah ciri dari masyarakat yang beradab.

​Gubernur menyampaikan permohonan maaf jika dalam kepemimpinannya masih terdapat kekurangan dalam mewujudkan keadilan yang ideal.

Ia menganggap jabatan yang ia emban adalah amanah untuk terus melakukan perbaikan demi kesejahteraan rakyat NTT.

​Melki juga mendorong para mahasiswa IFTK Ledalero untuk menjadi agen perubahan yang memiliki integritas moral tinggi.

Ilmu yang mereka peroleh harus digunakan untuk membela mereka yang tertindas, sesuai dengan spirit kenabian yang diajarkan di kampus tersebut.

​Pidato diakhiri dengan penegasan bahwa pemerintah siap dikoreksi jika langkah-langkah yang diambil menyimpang dari nilai-nilai keadilan sosial.

Melki ingin membangun NTT yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga tegak dalam keadilan dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *