Gadi Eisenkot, Mantan Panglima Militer yang Menantang Netanyahu dan Membawa Agenda Perubahan Israel

Gadi Eisenkot, Mantan Panglima Militer yang Menantang Netanyahu dan Membawa Agenda Perubahan IsraelYERUSALEM, GRANDISMA.COM – Gadi Eisenkot muncul sebagai salah satu tokoh utama dalam persaingan politik Israel setelah pemilu parlemen pada 27 Oktober 2026.

Mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) tersebut memimpin Partai Yashar, kekuatan politik berhaluan tengah yang berupaya mengakhiri pemerintahan Benjamin Netanyahu dan menawarkan arah baru bagi kepemimpinan negara itu.

Sebelum terjun ke dunia politik, Eisenkot membangun karier panjang di militer Israel dan pernah menjabat sebagai kepala staf IDF.

Ia kemudian memasuki parlemen melalui aliansi National Unity sebelum mendirikan Partai Yashar pada September 2025. Partai tersebut mengusung gagasan pemulihan kepercayaan publik, penguatan keamanan nasional, dan pembenahan kehidupan politik Israel.

Dalam pemilu kali ini, Yashar menjadi salah satu pesaing utama Likud yang dipimpin Netanyahu.

Sejumlah exit poll memperlihatkan partai Eisenkot memperoleh dukungan signifikan, meskipun Likud diproyeksikan menjadi partai tunggal terbesar.

Namun, hasil awal tersebut belum cukup untuk memastikan siapa yang dapat membentuk pemerintahan karena kedua blok masih berada di bawah ambang mayoritas parlemen.

Eisenkot menafsirkan hasil awal pemilu sebagai sinyal ketidakpercayaan publik terhadap pemerintahan Netanyahu, terutama menyangkut kegagalan keamanan dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan konflik yang mengikutinya.

Ia berjanji berupaya membentuk pemerintahan baru yang berorientasi pada kepentingan nasional, pemulihan kepercayaan masyarakat, dan pembagian tanggung jawab yang lebih merata di antara warga Israel.

Salah satu agenda utama Eisenkot adalah penerapan kewajiban dinas militer atau layanan nasional bagi seluruh warga yang memenuhi ketentuan hukum.

Gagasan ini menyasar perdebatan lama mengenai pengecualian dinas militer bagi sebagian laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks. Eisenkot menilai pembagian tanggung jawab tersebut penting untuk memperkuat kesetaraan kewajiban dan kohesi sosial di Israel.

Di bidang keamanan, Eisenkot juga menyatakan komitmen terhadap pembubaran Hamas serta penguatan posisi Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis.

Platform politik Yashar turut menekankan pendidikan publik, pengurangan kesenjangan sosial, penguatan lembaga negara, serta keseimbangan antara kekuasaan pemerintah dan independensi sistem peradilan.

Namun, ambisi Eisenkot terbentur persoalan koalisi. Partai-partai Arab Israel berpotensi memegang kursi penentu, tetapi sebagian pemimpin oposisi menolak membentuk pemerintahan yang bergantung pada dukungan mereka.

Eisenkot harus menentukan apakah akan membuka ruang kerja sama dengan partai-partai tersebut atau mencari jalur lain yang tetap memungkinkan terbentuknya mayoritas di Knesset.

Tantangan berikutnya adalah menyatukan partai-partai oposisi yang memiliki kepentingan dan pandangan berbeda.

Meskipun sama-sama ingin menggantikan Netanyahu, kelompok oposisi tidak sepenuhnya sepakat mengenai susunan pemerintahan, hubungan dengan partai Arab, serta pembagian jabatan politik.

Tanpa kompromi, keunggulan dalam perolehan kursi blok oposisi belum tentu dapat diterjemahkan menjadi kekuasaan pemerintahan.

Pemilu 2026 pun menjadi ujian bagi Eisenkot, bukan hanya untuk membuktikan kemampuannya sebagai penantang Netanyahu, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa agenda perubahan dapat diwujudkan melalui sistem parlementer Israel.

Keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan membangun koalisi yang stabil, menjawab persoalan keamanan, dan mempertemukan kepentingan kelompok-kelompok yang selama ini terpecah dalam politik nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed