TEHERAN, GRANDISMA.COM – Gelombang eksekusi mati dilaporkan meningkat drastis di Iran pada pembukaan tahun 2026.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa otoritas Teheran telah mengeksekusi sedikitnya 600 orang hanya dalam waktu tiga bulan pertama tahun ini, memicu kecaman keras dari komunitas internasional.
Pihak berwenang baru-baru ini melaksanakan hukuman gantung terhadap dua anggota kelompok oposisi terlarang, Mujahidin Rakyat Iran (MEK).
Langkah ini dipandang sebagai pesan peringatan keras bagi siapa pun yang berani menantang otoritas rezim di tengah ketidakstabilan domestik yang kian meruncing.
Ketegangan ini semakin memuncak dengan penangkapan kembali pengacara hak asasi manusia terkemuka, Nasrin Sotoudeh.
Sotoudeh, yang telah lama menjadi duri dalam daging bagi sistem peradilan Iran, ditangkap di kediamannya di Teheran tanpa penjelasan hukum yang transparan.
Keluarga Sotoudeh menyatakan kekhawatiran mendalam atas kondisi kesehatannya.
Penangkapan ini menandai babak baru penindasan terhadap para intelektual dan pembela hukum yang mencoba menyuarakan keadilan di sel-sel gelap penjara Iran.
Data dari organisasi pemantau hak asasi manusia menunjukkan rata-rata 200 eksekusi dilakukan setiap bulannya. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam satu dekade terakhir, menciptakan atmosfer ketakutan yang masif di kalangan warga sipil.
Di penjara-penjara seperti Evin, laporan mengenai penyiksaan sistematis terus mengalir keluar.
Banyak tahanan, terutama perempuan muda, dikabarkan “menghilang” tanpa kabar, meninggalkan keluarga mereka dalam ketidakpastian yang menyiksa.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa puluhan ribu orang masih mendekam di balik jeruji besi.
Ia mendesak dunia internasional untuk tidak menutup mata terhadap krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Iran.
Rezim dituduh menggunakan hukuman mati bukan sebagai instrumen hukum, melainkan sebagai alat politik untuk meneror populasi.
Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya pemberontakan massal seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Para analis politik menilai bahwa peningkatan eksekusi ini mencerminkan kerapuhan rezim di dalam negeri.
Semakin besar ancaman terhadap kekuasaan mereka, semakin brutal tindakan yang diambil untuk membungkam suara-suara sumbang.
Dunia kini menanti langkah konkret dari PBB dan badan internasional lainnya.
Tanpa intervensi diplomatik yang kuat, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun paling berdarah dalam sejarah modern hak asasi manusia di Iran.
