Dari Tukang Ojek hingga Konglomerat: Rahasia Haji Isam yang Jadi Miliuner di Usia 40-an Melalui Kerja Keras dengan Strategi Politik

Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S. Fil

CERPEN, TOKOH202 Dilihat
Dari Tukang Ojek hingga Konglomerat
Haji Isam (Gbr. Grandisma)

GRANDISMA.COM – Bisakah seorang pria yang menghangatkan tubuh di sudut jalan dengan motor bajanya benar-benar meraih kekayaan triliunan sebelum genap berusia 50 tahun?

Apakah kerja keras sungguh cukup untuk mengubah takdir, ataukah kita membutuhkan lebih dari itu – kemampuan untuk membaca dinamika politik dan membangun hubungan yang tepat?

Dan mengapa di tengah banyaknya orang yang bekerja keras setiap hari, hanya segelintir yang mampu melompat dari kelas bawah menuju puncak kemakmuran?

Ini bukan misteri yang tak terpecahkan – ini adalah kisah Andamin Arsad, yang lebih dikenal sebagai Haji Isam.

Sosok yang membuktikan bahwa batasan sosial bukanlah tembok yang tak bisa ditembus, melainkan tantangan yang harus diatasi dengan kombinasi usaha gigih dan kebijaksanaan dalam bergerak di medan bisnis dan politik yang kompleks.

Pada tahun 1995, sebuah pemuda berusia sekitar 18 tahun berdiri di sudut jalan utama Bandar Lampung dengan wajah yang terpanggang matahari dan pakaian yang lusuh.

Namanya Andamin Arsad, yang kemudian akan dikenal seluruh Indonesia sebagai Haji Isam.

Ia baru saja tiba dari desa kecilnya di Bone, Sulawesi Selatan, dengan hanya membawa dua set baju dan uang jajan yang cukup untuk bertahan tiga hari.

Tanpa kenalan, tanpa surat pekerjaan, tanpa modal apapun, yang ia miliki hanyalah sepeda motor tua yang dibelikan orang tuanya dan tekad untuk tidak pernah kembali ke kehidupan kemiskinan yang membuat keluarganya menderita selama bertahun-tahun.

Saat itu, ia tidak bisa membayangkan bahwa dalam waktu kurang dari tiga dekade, namanya akan masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

Masa awal sebagai tukang ojek adalah periode yang menyiksa bagi Haji Isam.

Ia harus bangun sebelum fajar untuk mendapatkan pelanggan yang akan pergi bekerja, dan seringkali hanya bisa pulang larut malam dengan uang yang cukup untuk membeli nasi dan lauk sederhana.

Kadang-kadang ia harus menghabiskan malam di bawah terowongan atau di halaman masjid karena tidak punya uang untuk menyewa kamar kos.

Banyak teman seperjuangannya yang menyerah dan memilih kembali ke kampung halaman, namun Haji Isam melihat setiap hari yang dilalui sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

Ia percaya bahwa setiap kesulitan yang dihadapi adalah investasi untuk masa depan yang lebih baik.

Yang membedakan Haji Isam dari tukang ojek lain pada masa itu adalah kesediaannya untuk selalu mengamati dan belajar dari lingkungan sekitarnya.

Ketika mengantar pelanggan ke berbagai tempat, mulai dari kantor pemerintah, pabrik, hingga perumahan mewah, ia tidak hanya fokus pada jalan yang harus ditempuh, namun juga memperhatikan bagaimana dunia bisnis dan pemerintahan berjalan.

Ia mendengarkan percakapan pelanggan tentang peluang bisnis, tantangan yang dihadapi oleh pengusaha, dan bagaimana sistem kerja di Indonesia.

Ia mencatat setiap informasi penting di dalam buku catatan kecil yang selalu ada di saku bajunya, menyimpan setiap detail sebagai modal yang tak ternilai harganya.

Setelah beberapa bulan bekerja sebagai tukang ojek, Haji Isam mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai sopir truk yang mengangkut kayu dari hutan Kalimantan Selatan ke pabrik di kota.

Meskipun pekerjaannya lebih berat dan lebih berisiko, ia menerima tawaran ini dengan senang hati karena melihatnya sebagai kesempatan untuk menjelajahi lebih banyak daerah dan bertemu dengan lebih banyak orang.

Di jalan, ia bertemu dengan berbagai jenis orang, dari pekerja hutan, kontraktor, hingga pejabat pemerintah yang melakukan peninjauan lapangan.

Ia selalu bersikap ramah dan sopan, membangun hubungan baik dengan setiap orang yang ditemuinya tanpa memandang status sosial mereka.

Pada tahun 2000, ketika ia berusia sekitar 23 tahun, takdir mulai berpaling ke arahnya ketika ia bertemu dengan Johan Maulana, seorang pengusaha batubara yang telah sukses membangun bisnisnya di Kalimantan.

Saat itu, Haji Isam sedang mengantar kayu ke salah satu tambang yang dikelola Johan dan secara tidak sengaja membantu menyelesaikan masalah pada mesin alat berat yang mogok.

Johan yang melihat kemampuannya dalam menangani mesin tersebut langsung menawarkannya pekerjaan sebagai operator alat berat di tambangnya.

Haji Isam menerima tawaran ini dengan tangan gemetar, ia tahu bahwa ini adalah pintu masuk ke dunia bisnis yang lebih besar.

Bekerja sebagai operator alat berat di tambang adalah pengalaman yang mengubah hidup Haji Isam.

Ia bekerja dengan sangat keras, seringkali bekerja lebih dari 12 jam sehari tanpa mengeluh.

Johan melihat potensi besar dalam diri Haji Isam; bukan hanya kemampuannya dalam mengoperasikan alat berat dengan terampil, namun juga kesediaannya untuk belajar dan komitmennya yang tinggi terhadap pekerjaan.

Tak lama kemudian, Johan mengangkatnya menjadi asisten pribadi dan mulai mengajarkannya tentang berbagai aspek bisnis pertambangan; mulai dari cara mengelola operasional tambang, melakukan negosiasi dengan klien, hingga membangun hubungan dengan pemerintah daerah.

Selama dua tahun bekerja bersama Johan Maulana, Haji Isam menyerap sebanyak mungkin pengetahuan dan pengalaman.

Ia belajar bahwa sukses dalam bisnis tidak hanya bergantung pada kerja keras semata, namun juga pada kemampuan untuk membaca situasi pasar, mengambil keputusan yang tepat, dan membangun hubungan yang kuat dengan berbagai pihak.

Johan menjelaskan bahwa di Indonesia, hubungan dengan pemerintah memiliki peran yang sangat penting; bukan hanya untuk mendapatkan izin usaha, namun juga untuk memastikan bahwa bisnis dapat berjalan dengan lancar dan berkontribusi pada pembangunan daerah.

Haji Isam dengan saksama mencatat setiap pelajaran yang diberikan oleh Johan.

Pada tahun 2003, ketika ia berusia 26 tahun, kesempatan yang telah ia tunggu-tunggu akhirnya datang.

Johan Maulana menawarkan untuk meminjamkan modal kepada Haji Isam agar ia bisa menyewa beberapa unit alat berat tambang dan memulai bisnis sebagai kontraktor pelaksana.

Banyak orang yang meragukan keputusan Johan; mengapa ia mau mempercayakan modal kepada seorang mantan tukang ojek yang tidak memiliki riwayat bisnis yang terbukti?

Namun Johan melihat sesuatu yang lain dalam diri Haji Isam: integritas yang tinggi, kemampuan untuk bertanggung jawab, dan tekad yang kuat untuk sukses.

Haji Isam tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia bekerja dengan lebih keras dari sebelumnya.

Dengan modal yang dipinjam dari Johan, Haji Isam mendirikan CV John L Baratama dan berhasil mendapatkan kontrak pertama sebagai kontraktor pelaksana untuk PT Arutmin Indonesia; sebuah perusahaan tambang batubara besar yang merupakan bagian dari PT Bumi Resources Tbk.

Pada awalnya, bisnisnya hanya menangani pekerjaan kecil seperti pembersihan lahan dan pembuatan jalan akses.

Namun Haji Isam memastikan bahwa setiap pekerjaan yang dikerjakan dilakukan dengan kualitas terbaik dan tepat waktu.

Ia juga membangun hubungan yang erat dengan pihak manajemen PT Arutmin, selalu siap membantu ketika ada masalah dan memberikan solusi yang efektif. Perlahan tapi pasti, kepercayaan terhadapnya mulai tumbuh.

Setelah berhasil dalam bisnis kontraktor tambang, Haji Isam melihat peluang besar di sektor transportasi laut.

Ia menyadari bahwa sebagian besar biaya produksi batubara digunakan untuk transportasi dari tambang ke pelabuhan. Pada tahun 2005, ia mendirikan John L N Marine dengan membeli dua kapal tongkang kecil.

Seiring dengan pertumbuhan bisnis tambangnya, armada kapal miliknya juga bertambah hingga mencapai 16 unit yang mampu mengangkut ribuan ton batubara perjalanan.

Dengan memiliki armada sendiri, ia tidak hanya dapat mengontrol kualitas dan jadwal pengiriman, namun juga mengurangi biaya operasional secara signifikan.

Tak berhenti di sektor laut, Haji Isam melihat bahwa banyak lokasi tambang dan lahan perkebunan berada di daerah terpencil yang sulit dijangkau dengan darat atau laut.

Ia kemudian mendirikan John L Air Transport yang memiliki dua pesawat Fokker dan dua helikopter.

Selain digunakan untuk keperluan bisnis sendiri, perusahaan ini juga menyewakan jasa transportasi udara kepada perusahaan lain dan pemerintah daerah.

Langkah ini tidak hanya memperkuat rantai nilai bisnisnya, namun juga menunjukkan visi yang jauh ke depan tentang pentingnya infrastruktur transportasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Pada tahun 2008, ketika ia berusia sekitar 31 tahun, Haji Isam memasuki sektor agrobisnis dengan mendirikan John L Agr Mandiri.

Ia melihat peluang besar dalam bisnis kelapa sawit yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, namun juga berperan penting dalam pengembangan energi terbarukan.

Ia berhasil memperoleh izin hak guna usaha seluas 30.000 hektar untuk perkebunan sawit dan 17.000 hektar untuk hutan tanaman industri.

Pada tahun 2019, ia membangun pabrik biodiesel senilai Rp2 triliun yang menyerap tenaga kerja lokal sebanyak ribuan orang.

Perkembangan bisnis Haji Isam semakin pesat ketika ia memutuskan untuk membawa salah satu anak perusahaannya ke pasar modal.

Pada tahun 2022, John L Agraya melakukan penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham JAR.

Respon pasar melampaui semua ekspektasi, harga saham melonjak hingga membuat kapitalisasi pasar perusahaan mencapai hampir Rp2 triliun dalam beberapa hari saja.

Pada usia 45 tahun, Haji Isam resmi menjadi miliuner dengan kekayaan yang diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah;  sebuah prestasi yang luar biasa bagi seseorang yang memulai dari nol.

Seiring dengan pertumbuhan bisnisnya, Haji Isam menyadari bahwa dalam konteks Indonesia, hubungan dengan dunia politik tidak dapat dihindari.

Pada tahun 2019, ketika ia berusia 42 tahun, ia mulai terlibat aktif dalam politik dengan menjabat sebagai Ketua Penasihat Partai Amanat Nasional (PAN) Provinsi Kalimantan Selatan.

Melalui posisi ini, ia dapat berkontribusi pada penyusunan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia melihat partisipasi politik bukan sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan pribadi, namun sebagai tanggung jawab untuk memberikan kontribusi pada daerah yang telah memberinya kesempatan untuk sukses.

Selain aktif dalam partai politik, Haji Isam juga terlibat dalam kampanye pemilihan umum presiden tahun 2019 sebagai Wakil Bendahara Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin.

Banyak orang yang melihat langkah ini sebagai strategi untuk membangun hubungan dengan pemerintah pusat.

Namun Haji Isam menyatakan bahwa ia mendukung pasangan tersebut karena percaya bahwa kepemimpinannya dapat membawa kemajuan bagi Indonesia dan memberikan kesempatan yang lebih besar bagi pengusaha muda.

Ia juga berperan aktif dalam program sosial yang digalakkan oleh kampanye, seperti pembangunan sekolah dan rumah sakit di daerah terpencil.

Sebelumnya, pada tahun 2003 ketika bisnisnya mulai berkembang, Haji Isam telah membangun kerja sama bisnis dengan mantan Ketua MPR Bambang Soesatyo.

Keduanya bekerja sama dalam PT Kodeko Timber yang mengelola hutan tanaman industri dan kawasan perkebunan sawit luas di Kalimantan.

Kerja sama ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, namun juga menjadi langkah strategis bagi Haji Isam untuk memperoleh akses ke lahan yang luas dan membangun fondasi yang kuat untuk pengembangan bisnis agrobisnisnya.

Melalui kerja sama ini, ia belajar tentang cara berbisnis dengan skala besar dan mengelola hubungan dengan berbagai pihak.

Pada tahun 2025, ketika ia berusia 48 tahun, kepercayaan pemerintah terhadap Haji Isam semakin meningkat ketika Presiden Prabowo Subianto menunjukkannya untuk menangani proyek strategis nasional: pembangunan cetak sawah seluas 1 juta hektar di Merauke, Papua.

Untuk mendukung proyek ini, ia melakukan pembelian berskala besar sebanyak 2000 unit ekskavator dari Sunny Group asal China, sebuah pembelian yang mencetak sejarah sebagai pembelian alat berat terbesar di dunia.

Langkah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya dianggap sebagai pengusaha sukses, namun juga sebagai sosok yang dapat dipercaya untuk menangani proyek besar yang berdampak pada kemajuan nasional.

Untuk menunjukkan komitmennya terhadap proyek Merauke, Haji Isam mengubah kapal pesiar pribadinya bernama J7 Explor menjadi kapal induk untuk operasional di lapangan.

Kapal ini diubah menjadi pusat komando, tempat tinggal bagi tim manajemen dan pekerja, serta fasilitas perawatan alat berat.

Ia juga membangun fasilitas pendukung seperti klinik kesehatan, kantin, dan tempat tinggal sementara untuk ribuan pekerja yang terlibat.

Ia menyatakan bahwa proyek ini bukan hanya tentang bisnis, namun tentang kontribusi pada ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Tentu saja, kesuksesan besar yang diraih Haji Isam tidak datang tanpa tantangan dan kritik.

Beberapa masyarakat lokal dan aktivis lingkungan menyampaikan kekhawatiran tentang dampak ekspansi bisnis tambang dan perkebunan terhadap lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat.

Haji Isam menyadari bahwa kritik ini merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus diemban sebagai seorang pengusaha besar.

Ia telah melakukan berbagai langkah untuk memperbaiki praktik bisnisnya, seperti menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan memberikan kontribusi bagi pembangunan masyarakat lokal di sekitar lokasi proyek.

Di balik semua kesuksesan bisnisnya, Haji Isam dikenal sebagai sosok dermawan yang sangat peduli dengan kesejahteraan masyarakat.

Hingga akhir tahun 2022 saja, ia telah memberangkatkan sebanyak 870 warga Tanah Bumbu untuk menunaikan ibadah umrah secara gratis melalui Yayasan Haji Isam.

Ia juga secara teratur menyalurkan zakat dan sumbangan yang jumlahnya mencapai Rp250 miliar per tahun, yang digunakan untuk mendukung pendidikan, kesehatan, pembangunan rumah ibadah, dan bantuan bagi masyarakat kurang mampu.

Besarnya zakat yang ia keluarkan bahkan menjadi acuan bagi banyak pihak dalam memperkirakan besarnya kekayaan yang dimilikinya.

Kontribusi Haji Isam terhadap pembangunan daerah dan negara juga diakui secara resmi oleh pemerintah pusat.

Pada tahun 2021, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri untuk meresmikan pabrik biodiesel PT John L Raya miliknya di Tanah Bumbu.

Pabrik ini yang memiliki kapasitas produksi besar tidak hanya menjadi salah satu pabrik biodiesel terkemuka di Indonesia, namun juga menyerap tenaga kerja lokal sebanyak lebih dari 3.000 orang.

Selain itu, ia juga membangun pabrik gula berskala besar di daerah terpencil yang menyerap tenaga kerja hingga 15.000 orang.

Salah satu momen yang membuat nama Haji Isam semakin dikenal luas adalah ketika ia membeli pesawat pribadi seharga Rp1,5 triliun dengan penampilan yang sangat sederhana, ia hanya mengenakan kaos polos dan celana panjang biasa.

Ia juga memiliki lintasan terbang pribadi dan koleksi kendaraan mewah, namun tetap menjaga gaya hidup yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.

Ia sering menghabiskan waktu untuk bertemu dengan pekerja-pekerjanya, mendengar keluhan mereka dan memberikan motivasi untuk terus bekerja dengan baik.

Ia selalu mengatakan bahwa kesuksesan bisnisnya tidak mungkin tercapai tanpa kontribusi dari setiap pekerja.

Media massa nasional menjulukinya sebagai “The Call Capitalist” – menggambarkan kemampuannya untuk menggabungkan kejeniusan bisnis dengan keahlian dalam membangun hubungan yang kuat dengan berbagai pihak, termasuk dunia politik.

Ia dianggap sebagai salah satu sosok oligarki baru yang muncul di Kalimantan, namun berbeda dengan beberapa oligarki lain, ia selalu berusaha untuk memberikan manfaat bagi banyak orang.

Ia sering mengatakan bahwa “bisnis yang benar adalah bisnis yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas, bukan hanya bagi pemiliknya”.

Salah satu rahasia utama kesuksesan Haji Isam adalah kemampuannya untuk melihat peluang di tengah kesulitan dan memiliki keberanian untuk mengambil risiko yang terhitung.

Ketika banyak orang hanya fokus pada pekerjaan sehari-hari dan takut untuk keluar dari zona nyaman, ia selalu mencari cara untuk mengembangkan diri dan bisnisnya.

Ia memiliki prinsip yang tegas: “Saat orang lain bekerja dengan cukup baik, saya bekerja dengan ekstra keras; saat orang lain ragu untuk mengambil langkah, saya melakukan persiapan matang dan kemudian bertindak tegas; dan saat kesempatan datang, saya memberikan yang terbaik tanpa ada kompromi pada kualitas.”

Dalam membangun hubungan dengan dunia politik, Haji Isam selalu menjaga prinsip integritas dan transparansi.

Ia tidak mencari keuntungan yang tidak adil atau hak istimewa yang merugikan masyarakat.

Sebaliknya, ia melihat kerja sama antara sektor swasta dan pemerintah sebagai sarana untuk mencapai tujuan bersama – yaitu pembangunan yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Ia sering memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah tentang kebijakan ekonomi yang dapat mendukung pertumbuhan usaha kecil dan menengah, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta pengembangan infrastruktur yang diperlukan daerah.

Contoh nyata tentang bagaimana Haji Isam menggabungkan kerja keras dengan strategi politik adalah dalam pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) di pesisir Kalimantan Selatan.

Melalui kerja sama erat dengan pemerintah daerah dan pusat, ia berhasil memperoleh izin untuk mengembangkan kawasan industri yang dilengkapi dengan infrastruktur lengkap seperti pelabuhan modern, jalan raya berstandar nasional, dan pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Kawasan ini tidak hanya menjadi rumah bagi perusahaan-perusahaan miliknya, namun juga menarik investasi dari lebih dari 50 perusahaan dalam dan luar negeri, yang pada akhirnya menciptakan lebih dari 20.000 lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah secara signifikan.

Haji Isam juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan sumber daya manusia lokal.

Ia mendirikan beberapa lembaga pendidikan dan pelatihan kerja yang fokus pada keterampilan yang dibutuhkan di sektor bisnis yang dikelolanya – seperti teknik mesin, manajemen pertanian, logistik, dan keuangan.

Ia percaya bahwa pembangunan daerah tidak akan berkelanjutan jika hanya bergantung pada tenaga kerja dari luar daerah.

Melalui program pendidikan dan pelatihan yang ia kelola, lebih dari 10.000 anak muda lokal telah berhasil mendapatkan pekerjaan yang baik dan bahkan beberapa di antaranya telah mampu membuka usaha sendiri.

Meskipun telah mencapai kesuksesan yang luar biasa di usia yang masih muda, Haji Isam tetap menjaga sikap rendah hati dan selalu ingat akan akar-akarnya.

Ia sering berkunjung ke kampung halamannya di Bone, Sulawesi Selatan, membawa bantuan berupa bahan makanan, uang tunai, serta membangun infrastruktur penting seperti sekolah, rumah sakit, dan jalan desa.

Ia juga memberikan beasiswa bagi puluhan anak-anak di kampung halamannya yang berprestasi namun kurang mampu secara finansial.

Bagi dirinya, kesuksesan bukanlah sesuatu yang harus dinikmati sendiri – melainkan sebuah tanggung jawab untuk membantu orang lain dan membangun masa depan yang lebih baik bagi daerah dan negara.

Perjalanan Haji Isam dari seorang tukang ojek yang tidak punya apa-apa hingga menjadi konglomerat miliuner di usia 40-an adalah bukti nyata bahwa batasan sosial dan ekonomi bukanlah hal yang tak bisa ditembus.

Ia berhasil menggabungkan kerja keras yang tak kenal lelah dengan kebijaksanaan dalam membangun hubungan dengan dunia politik – bukan untuk mengeksploitasi kekuasaan, namun untuk menciptakan sinergi yang bermanfaat bagi semua pihak.

Kisahnya menunjukkan bahwa sukses sejati tidak hanya diukur dari jumlah kekayaan yang terkumpul, namun juga dari dampak positif yang diberikan kepada masyarakat dan kontribusi yang diberikan untuk kemajuan bangsa.

PENUTUP
Apakah kesuksesan Haji Isam hanya kebetulan yang tak bisa diulang, ataukah ada pola dan prinsip yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam hidup kita sendiri?

Mengapa di tengah ribuan orang yang bekerja keras setiap hari, hanya sedikit yang mampu mencapai tingkat kesuksesan seperti yang dia capai?

Dan apakah kita sebagai masyarakat siap untuk mengakui bahwa kesuksesan bisa datang dari mana saja – dari sudut jalan yang paling kumuh hingga puncak gedung pencakar langit – selama kita memiliki tekad yang kuat dan kesediaan untuk belajar serta beradaptasi dengan dinamika lingkungan yang terus berubah?

Jawabannya terletak pada pemahaman bahwa kerja keras adalah dasar, namun kita juga perlu memiliki kebijaksanaan untuk membaca peluang, membangun hubungan yang tepat, dan menggunakan setiap kesempatan yang datang untuk berkembang.

Haji Isam telah membuktikan bahwa usia muda dan latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk meraih impian besar.

Sekarang pertanyaannya adalah: apakah kita siap untuk mengambil langkah pertama menuju impian kita sendiri, ataukah kita akan terus berada di zona nyaman dan hanya bermimpi tanpa bertindak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *