Dulu, pelukan Gilang adalah satu-satunya tempat di mana Putry bisa melupakan penatnya dunia.
Bagi Putry, Gilang bukan sekadar kekasih yang menemani hari-harinya selama empat tahun terakhir.
Gilang adalah rumah. Tempat ia pulang, tempat ia merebahkan segala lelah, dan tempat ia merasa paling aman.
Namun, sore itu, di sebuah kedai kopi yang riuh di sudut kota, Putry menyadari bahwa rumah yang selama ini ia huni telah berubah.
Pintu-pintunya terkunci, jendela-jendelanya dingin, dan tak ada lagi kehangatan di dalamnya.
Di hadapan Putry, Gilang duduk dengan pandangan mata yang terus tertuju pada layar ponselnya. Senyum tipis terukir di bibir Gilang jenis senyum yang dulu hanya milik Putry.
Namun kini, senyum itu lahir dari sebuah ruang obrolan digital dengan nama yang asing: Elena.
“Gilang,” panggil Putry lirih. Suaranya hampir tenggelam di antara denting sendok dan musik kedai.
Gilang mendongak, sedikit terkejut. “Ya, Sayang? Kenapa?” tanya Gilang, lalu dengan cepat membalikkan ponselnya ke atas meja, menghadap ke bawah.
Sebuah gestur defensif yang beberapa bulan terakhir ini menjadi makanan sehari-hari Putry.
“Kamu berubah,” kata Putry langsung.
Tidak ada gunanya lagi berbasa-basi. Rasa sesak di dadanya sudah terlalu penuh untuk disimpan sendiri.
Gilang menghela napas panjang, gurat jengkel samar terlihat di wajahnya.
“Berubah bagaimana lagi, Putry? Kita kan sedang jalan berdua sekarang. Aku di sini, bersamamu.”
“Fisikmu di sini, Lang. Tapi pikiranmu, hatimu… sudah di tempat lain,” Putry menatap lurus ke dalam manik mata Gilang, mencari sisa-sisa tatapan hangat yang dulu selalu memujanya. Nihil.
Yang tersisa hanyalah kekosongan dan rasa bersalah yang ditutupi kemarahan.
“Kalau ini soal Elena lagi, aku sudah billing dia cuma teman kerja, Putry. Jangan kekanak-kanakan,” nada suara Gilang mulai meninggi.
Putry tersenyum getir. Air matanya menggenang, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh.
“Teman kerja tidak bertukar pesan sampai jam dua pagi, Lang. Teman kerja tidak memakai panggilan sayang.
Dan teman kerja… tidak membuatmu melupakan janji makan malam ulang tahunku minggu lalu.”
Gilang terdiam.
Kata-katanya terkunci.
Keheningan yang tercipta di antara mereka terasa begitu mencekam, mengonfirmasi segala ketakutan terbesar Putry.
Selama beberapa bulan ini, Putry mencoba bertahan.
Ia mencoba merenovasi hubungan mereka yang mulai retak.
Ia memasak makanan kesukaan Gilang, memberikan perhatian lebih, dan memaklumi segala alasan kesibukan Gilang.
Putry mengira, jika ia menjadi “rumah” yang lebih baik, Gilang tidak akan pergi mencari persinggahan lain.
Namun sore ini, melihat bagaimana Gilang begitu protektif terhadap ponselnya, melihat bagaimana tatapan Gilang yang gelisah ingin segera menyudahi pertemuan mereka, Putry sadar.
Rumah itu bukan rusak karena badai dari luar.
Rumah itu hancur karena sang pemilik memang sengaja membuka pintunya untuk orang asing masuk dan merubuhkannya dari dalam.
Gilang telah menemukan “rumah” baru dalam diri Elena.
Dan di sini, Putry hanyalah seorang asing yang terdampar di teras rumahnya sendiri.
Putry meraih tasnya, lalu berdiri.
“Mau ke mana?”tanya Gilang, ada sedikit kepanikan dalam suaranya.
“Pulang,” jawab Putry pendek.
“Aku antar,” Gilang ikut berdiri dan meraih kunci motornya.
Putry menggeleng pelan.
Ia menatap Gilang untuk terakhir kalinya, melepaskan segala angan-angan masa depan yang pernah mereka bangun bersama di atas kertas janji-janji manis.
“Tidak usah, Gilang. Aku bisa pulang sendiri,” ucap Putry, suaranya kini terdengar begitu tenang namun tegas.
“Dan mulai hari ini, kamu tidak perlu repot-repot membagi hatimu lagi. Pulanglah ke tempat yang benar-benar kamu inginkan. Karena di sini, kamu bukan lagi rumahku, dan aku… bukan lagi tempatmu kembali.”
Putry berbalik dan melangkah keluar dari kedai kopi tanpa menoleh lagi.
Di luar, hujan gerimis mulai membasahi jalanan kota.
Di bawah langit yang mendung, Putry membiarkan air matanya mengalir bersama tetesan hujan.
Rasanya sangat sakit, namun bersamaan dengan itu, ada rasa lega yang teramat sangat.
Ia kehilangan Gilang, tapi sore itu, Putry berhasil menemukan kembali dirinya sendiri yang sempat hilang demi mempertahankan sebuah rumah yang telah lama runtuh.
